Festival Kreasi Payung Geulis 2026 akan berlangsung pada 30–31 Oktober di Taman Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Di tengah payung buatan pabrik yang mudah ditemukan, para perajin masih mempertahankan keterampilan membuat payung dengan tangan.
Sebuah payung biasanya dibuka ketika hujan turun. Setelah cuaca kembali cerah, payung dilipat dan disimpan. Namun, di Tasikmalaya, sebuah payung dapat menghabiskan waktu cukup lama di tangan perajin sebelum akhirnya digunakan atau dipajang. Rangkanya disusun, penutupnya dipasang, lalu permukaannya dihiasi dengan lukisan bunga dan ornamen berwarna.
Pada 30–31 Oktober 2026, kerajinan tersebut akan menjadi pusat perhatian dalam Festival Launching dan Kreasi Payung Geulis di kawasan Taman Kota Tasikmalaya, Jawa Barat. Kegiatan yang berlangsung pukul 08.00–22.00 WIB ini menjadi bagian dari Tasikmalaya Oktober Festival untuk memperingati Hari Jadi ke-25 Kota Tasikmalaya. Pemerintah Kota Tasikmalaya bersama Bank Indonesia menjadwalkan peluncuran kreasi baru Payung Geulis, pameran bordir dan batik, serta pertunjukan seni budaya. Ratusan payung direncanakan menghiasi kawasan festival yang terbuka bagi masyarakat tanpa biaya masuk.

Di antara berbagai kegiatan tersebut, ada pertanyaan yang menarik. Ketika payung buatan pabrik dapat diperoleh dengan mudah, mengapa masyarakat Tasikmalaya masih mempertahankan pekerjaan membuat payung dengan tangan?
Jawabannya berkaitan dengan perjalanan panjang sebuah benda, keterampilan yang diwariskan, dan kebanggaan yang tidak selalu mudah diubah menjadi penghidupan.
Bermula dari Kebutuhan Pergi ke Ladang
Jejak Payung Geulis membawa perhatian menuju Kampung Panyingkiran, Kecamatan Indihiang, Kota Tasikmalaya. Dalam kajian sejarah kerajinan setempat, nama H. Muhi atau H. Muhyi disebut sebagai salah satu tokoh yang mengembangkan pembuatan payung sekitar 1930-an.
Kebutuhannya sederhana. Ketika pergi ke ladang, seseorang memerlukan pelindung dari panas matahari dan hujan. H. Muhi membuat payung menggunakan bahan yang tersedia, termasuk kertas. Bentuk tersebut kemudian menarik perhatian warga sekitar.
Kegiatan yang bermula dari kebutuhan pribadi perlahan berkembang menjadi keterampilan dan usaha masyarakat. Payung mulai dibuat untuk dijual, sementara hiasan serta motif ditambahkan agar produk mempunyai daya tarik. Dari pekerjaan tersebut, berkembang kerajinan yang kemudian dikenal sebagai Payung Geulis.
Kata geulis dalam bahasa Sunda berarti cantik. Sebutan itu berkaitan dengan keindahan payung yang dihiasi melalui lukisan tangan. Sesuatu yang semula dibuat untuk melindungi tubuh memperoleh nilai baru melalui keterampilan menghias.
Perkembangan Payung Geulis kemudian membuka mata pencaharian bagi masyarakat Panyingkiran. Pengetahuan mengenai bahan, rangka, pemasangan penutup, dan pelukisan dipelajari oleh semakin banyak warga. Kerajinan menjadi bagian dari kegiatan ekonomi sekaligus identitas lingkungan tempat pembuatannya berkembang.
Ketika Satu Kampung Dipenuhi Payung
Payung Geulis pernah mengalami masa kejayaan. Catatan mengenai perjalanan para perajin menunjukkan bahwa kerajinan tersebut memiliki pasar yang luas, terutama pada pertengahan abad ke-20 dan dalam beberapa fase perkembangan usaha berikutnya.
Mak Iyah, salah seorang perajin senior yang kisahnya didokumentasikan dalam majalah FORWAS terbitan 2019, mengenang masa ketika Payung Geulis banyak diminati. Ia mengembangkan lukisan berupa garis, tumbuhan, dan hewan untuk memperindah permukaan payung. Karya para perajin kemudian dipasarkan ke berbagai daerah.
Penelitian sejarah industri Payung Geulis di Panyingkiran juga mencatat bahwa pada masa ramai produksi, banyak rumah terlibat dalam usaha kerajinan. Jalan-jalan kampung pernah dipenuhi payung yang dijemur setelah melalui proses pewarnaan. Pemandangan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah benda dapat membentuk kegiatan ekonomi dan kehidupan sosial suatu lingkungan.
Namun, perkembangan industri membawa perubahan besar.
Payung buatan pabrik semakin mudah diperoleh. Proses produksi yang berbeda memungkinkan barang dibuat dalam jumlah besar dan dipasarkan dengan harga yang bersaing. Sementara itu, pembuatan Payung Geulis tetap memerlukan pekerjaan tangan yang lebih panjang.
Krisis ekonomi juga memengaruhi keberlangsungan usaha kerajinan. Penelitian mengenai industri Payung Geulis mencatat sejumlah periode penurunan produksi, termasuk dampak krisis moneter 1997–1998. Sebagian usaha berhenti, sementara perajin yang bertahan menghadapi perubahan pasar dan kebutuhan pembeli.
Payung Geulis yang dahulu dekat dengan kebutuhan sehari-hari perlahan semakin dikenal melalui fungsi hias, pertunjukan seni, dan cendera mata budaya.
Keterampilan yang Tidak Dapat Dilipat Begitu Saja
Membuat Payung Geulis membutuhkan lebih dari kemampuan melukis. Pekerjaan dimulai dari menyiapkan bahan serta membentuk rangka yang menjadi dasar keseluruhan payung. Bagian-bagian tersebut harus disusun agar dapat menopang penutup dan menghasilkan bentuk yang diinginkan.
Perajin kemudian memasang bahan penutup, melakukan pengecatan atau penyelesaian permukaan, serta menambahkan lukisan sesuai rancangan. Motif bunga dan tumbuhan menjadi salah satu karakter yang sering dikenali pada Payung Geulis.
Setiap tahap memerlukan keterampilan yang berbeda. Rangka yang kurang tepat dapat memengaruhi bentuk payung, sedangkan permukaan yang belum siap dapat menyulitkan proses pelukisan. Hasil akhir bergantung pada hubungan antara pekerjaan teknis dan kepekaan artistik perajin.
Di tengah produksi barang modern, pekerjaan semacam ini menghadapi tantangan tersendiri. Waktu yang digunakan untuk membuat sebuah payung harus mempunyai nilai ekonomi yang layak. Perajin juga perlu memperoleh bahan, menjaga mutu, serta menemukan pembeli yang menghargai keterampilan tersebut.
Namun, justru pekerjaan tangan menjadi salah satu hal yang membedakan Payung Geulis dari produk pabrik. Motif dapat dikembangkan mengikuti pengalaman dan kreativitas pembuatnya. Perajin mempunyai kesempatan menghadirkan variasi melalui pilihan warna, garis, serta ornamen.
Keindahan payung akhirnya mempunyai hubungan dengan pengetahuan orang yang membuatnya. Ketika seorang perajin berhenti bekerja tanpa meneruskan keterampilannya, yang berisiko hilang bukan hanya sebuah produk, melainkan juga cara membuatnya.
Kebanggaan yang Pernah Kehilangan Pembeli
Tasikmalaya dikenal sebagai salah satu pusat kerajinan di Jawa Barat. Payung Geulis menjadi bagian dari identitas tersebut bersama berbagai produk keterampilan tangan lainnya. Pemerintah daerah dan pelaku budaya terus memperkenalkan Payung Geulis melalui kegiatan pameran, promosi, serta pengembangan produk.
Namun, kebanggaan terhadap sebuah kerajinan mempunyai persoalan yang cukup rumit.
Masyarakat dapat merasa bangga ketika Payung Geulis dikenal sebagai simbol daerah. Pengunjung mungkin tertarik berfoto dengan payung berwarna-warni atau membawanya pulang sebagai cendera mata. Nama kerajinan semakin dikenal melalui dokumentasi dan kegiatan festival.
Sementara itu, perajin masih harus menjawab persoalan yang lebih sederhana: siapa yang akan membeli hasil pekerjaan mereka berikutnya?
Keindahan sebuah karya memang dapat mengundang pujian. Namun, pujian saja tidak selalu cukup untuk membiayai pembelian bahan, membayar tenaga kerja, atau menjaga kegiatan produksi.
Di sinilah kebanggaan budaya memerlukan hubungan dengan kehidupan ekonomi. Kerajinan yang dipamerkan membutuhkan orang yang terus membuatnya. Pengetahuan yang dibanggakan memerlukan generasi baru yang bersedia mempelajarinya.
Penelitian mengenai industri Payung Geulis menunjukkan bahwa sebagian perajin mulai memanfaatkan pemasaran melalui internet untuk menjangkau konsumen. Perubahan cara menjual tersebut menjadi salah satu usaha mempertahankan kerajinan di tengah pasar yang terus berubah.
Payung Geulis tidak harus kembali menjadi perlengkapan utama ketika hujan agar tetap mempunyai kehidupan. Produk tersebut dapat memperoleh fungsi baru selama keterampilan pembuatannya tetap dihargai dan mempunyai ruang ekonomi.
Festival yang Membuka Kemungkinan Baru
Festival Launching dan Kreasi Payung Geulis 2026 menjadi salah satu upaya mempertemukan warisan kerajinan dengan kebutuhan masyarakat masa kini. Melalui kegiatan pada 30–31 Oktober, Pemerintah Kota Tasikmalaya dan Bank Indonesia berencana memperkenalkan kreasi baru hasil pengembangan perajin lokal.
Pilihan menghadirkan karya baru mempunyai arti penting. Payung Geulis membawa pengetahuan tradisional, tetapi bentuk, motif, serta penggunaannya dapat dikembangkan melalui kreativitas para perajin. Sebuah kerajinan dapat mempertahankan ciri khas sambil membuka kemungkinan baru dalam desain dan pemasaran.
Pameran batik, bordir, serta pertunjukan seni budaya turut menjadi bagian dari festival. Kehadiran berbagai keterampilan tersebut memperlihatkan hubungan antara Payung Geulis dengan kehidupan kreatif Kota Tasikmalaya.
Bagi pengunjung, festival membuka kesempatan untuk mengenali produk kerajinan secara lebih dekat. Payung yang biasanya dilihat sebagai hiasan dapat menjadi pintu masuk untuk memahami proses pembuatan, sejarah industri, dan peran para perajin.
Namun, nilai festival akan lebih terasa ketika ketertarikan pengunjung berlanjut setelah kegiatan selesai. Pesanan produk, kesempatan kerja sama, ruang pelatihan, dan keterlibatan generasi muda dapat menjadi bagian dari perjalanan berikutnya.
Festival mungkin hanya berlangsung dua hari. Sementara itu, kehidupan kerajinan membutuhkan hubungan yang terus terjaga antara pembuat, pembeli, dan masyarakat yang menganggapnya berharga.
Siapa yang Sebenarnya Membutuhkan Payung Geulis?
Pada akhirnya, pertanyaan mengenai alasan Tasikmalaya masih membuat payung dengan tangan mempunyai jawaban yang lebih luas daripada sekadar mempertahankan tradisi.
Payung Geulis menyimpan pengetahuan mengenai bahan, bentuk, warna, dan keterampilan yang berkembang melalui pekerjaan masyarakat. Kerajinan tersebut juga mempunyai sejarah sebagai sumber penghidupan, kemudian menghadapi perubahan pasar yang membuat sebagian pelakunya harus mencari jalan baru.
Festival Kreasi Payung Geulis 2026 memberi kesempatan untuk memperkenalkan kembali pekerjaan tersebut kepada masyarakat. Ratusan payung dijadwalkan menghiasi Taman Kota Tasikmalaya, sementara kreasi baru perajin memperoleh ruang untuk diperlihatkan.
Kebanggaan sebuah kota dapat tumbuh melalui keindahan produk yang dimilikinya. Namun, kebanggaan yang lebih panjang mungkin terletak pada kemampuan menjaga agar orang-orang yang membuat produk tersebut tetap mempunyai alasan untuk bekerja.
Payung Geulis kini tidak selalu dibeli karena seseorang takut kehujanan. Ada orang yang mencarinya karena keindahan, nilai budaya, atau keterampilan yang tersimpan dalam setiap bagian.
Di sebuah tempat kerja perajin, rangka payung masih perlu dirapikan. Penutupnya masih harus dipasang, dan sebidang permukaan menunggu lukisan berikutnya.
Hujan mungkin belum akan turun. Pekerjaan membuat payung tetap berjalan.
