Hari ini, Kamis 18 Juni 2026, Desa Adat Hilisimaetanö berada dalam irama Maniamölö Fest. Rumah-rumah adat berdiri sebagai latar kehidupan desa, halaman menjadi ruang pertemuan, tubuh para penari memasuki barisan, sementara pengunjung datang untuk menyaksikan Nias Selatan melalui tradisi yang bergerak di hadapan publik.
Festival yang berlangsung pada 14–21 Juni 2026 ini menghadirkan wisata, tradisi, seni pertunjukan, kuliner, fashion karnaval Nias, produk UMKM, tur galeri budaya, serta pengalaman menginap di rumah adat. Indonesia Travel mencatat Maniamölö Fest sebagai agenda budaya di Kabupaten Nias Selatan, Sumatra Utara, dengan akses gratis bagi pengunjung.

Di Hilisimaetanö, festival mengambil bentuk desa. Panggung menyatu dengan kehidupan warga. Rumah adat, jalan, batu, halaman, suara, dan benda-benda budaya berada dalam satu lintasan pengalaman. Pengunjung memasuki ruang yang sehari-hari menjadi tempat tinggal, lalu menemukan tradisi melalui tubuh yang bergerak, benda yang diarak, dan warga yang menyambut.
Salah satu simpul terkuat dalam festival ini adalah Famadaya Harimao. Indonesia Travel mencatat Famadaya Harimao sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia 2024. RRI menjelaskan Famadaya Harimao sebagai salah satu warisan budaya Nias bersama köfö-köfö dan afore, dengan bentuk seni pertunjukan pengarakan patung menyerupai harimau.
Jadesta Kemenpar menjelaskan Famadaya Harimao, atau Lawölö Fatao, sebagai ritual tolak bala dan penetapan hukum adat yang berlaku di Desa Hilisimaetanö dan sekitarnya. Dalam prosesi tersebut hadir Fo’ere, doa-doa kuno, serta perarakan patung Lawölö Fatao yang diiringi prajurit desa.
Dari prosesi itu, ingatan adat memperoleh tubuhnya. Patung diarak melalui ruang desa, doa diucapkan dalam susunan yang diwariskan, prajurit desa mengiringi peristiwa, warga menyaksikan dari dekat. Setiap unsur membawa kedudukan: patung sebagai tanda, doa sebagai suara, barisan sebagai tata gerak, desa sebagai ruang yang menampung ingatan bersama.
Diana Taylor, dalam kajian tentang repertoire, membaca tubuh, suara, gerak, dan tindakan berulang sebagai cara kebudayaan menyimpan pengetahuan. Di Maniamölö Fest, gagasan itu tampak pada cara patung Lawölö Fatao diarak, cara prajurit desa mengiringi prosesi, cara tubuh pelompat batu mengambil ancang-ancang, serta cara tarian perang menyusun tenaga kolektif di hadapan publik. Tradisi hadir melalui tubuh yang tampil, mengulang, dan disaksikan bersama.
Lompat batu memberi bahasa lain dalam festival ini. Tubuh pelompat mengambil ancang-ancang, bergerak menuju batu, lalu melewati batas yang berdiri di hadapan publik. Batu menjadi ambang yang dilampaui tubuh. Di hadapan penonton, lompatan itu menyimpan latihan, keberanian, kesiapan, dan pengakuan sosial.
Victor Turner menyebut pengalaman ambang sebagai liminalitas, suasana ketika seseorang atau komunitas berada dalam fase peralihan. Dalam lompat batu, ambang itu tampak secara harfiah: tubuh bergerak menuju batas, melewatinya, lalu kembali diterima dalam tatapan publik. Dalam skala festival, Hilisimaetanö juga memasuki suasana ambang. Desa menjadi ruang festival yang mempertemukan warga, pengunjung, adat, dan ekonomi kreatif.
Tarian perang kolosal menghadirkan ingatan yang disimpan melalui gerak. Barisan tubuh, hentakan kaki, tatapan, suara, dan tenaga kolektif membentuk bahasa yang telah dilatih sebelum tampil di hadapan publik. Gerak yang diulang dari latihan ke festival membuat tubuh menjadi arsip hidup. Di hadapan penonton, tubuh para penari membawa pola lama ke dalam ruang peristiwa hari ini.

Festival ini juga memberi tempat bagi kehidupan ekonomi warga. Kuliner khas, cinderamata, fashion karnaval Nias, produk UMKM, tur galeri budaya, dan homestay rumah adat membuat pengunjung mengalami desa melalui banyak pintu. Ada yang datang melalui pertunjukan, ada yang masuk melalui makanan, ada yang tinggal di rumah adat, ada yang membawa pulang benda-benda kecil sebagai jejak kunjungan.
Sejak mulai digelar sebagai acara tahunan pada 2021, Maniamölö Fest tumbuh dari inisiatif Desa Hilisimaetanö bersama Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Nias Selatan. Indonesia Travel dalam catatan terdahulu menyebut festival ini menonjolkan potensi desa dalam pariwisata, budaya, dan ekonomi kreatif, dengan keterlibatan komunitas budaya, sekolah, serta masyarakat setempat.
Pada pertengahan rangkaian 2026 ini, Hilisimaetanö tampak sebagai desa yang sedang membuka ingatannya. Tradisi hadir dalam pengarakan, lompatan, tarian, rumah adat, kuliner, percakapan, dan penyambutan. Warga menata acara, pengunjung membaca suasana, seniman menyiapkan tubuh, dan desa memberi bentuk pada warisan yang terus bergerak.
Ketika festival berakhir pada 21 Juni, jejaknya akan tertinggal dalam foto, cerita perjalanan, benda yang dibeli, suara pertunjukan, pengalaman menginap, dan ingatan warga yang kembali bekerja setelah keramaian selesai. Maniamölö Fest menjadikan Hilisimaetanö sebagai ruang tempat Nias Selatan memperlihatkan adat sebagai kehidupan yang masih berjalan: diarak, dilompati, ditarikan, dimasak, ditempati, dan disambut bersama. (Yabui)
