Di sebelah selatan Dermayu, nama Desa Bulak masuk ke dalam lagu. Jatibarang disebut sebagai penanda arah, lalu muncul makam keramat, petilasan Pangeran Suryanegara, dan Buyut Bulak. Sesudah itu, lagu bergerak menuju budaya, ekonomi kreatif, pertanian, keguyuban warga, dan cita-cita menjadi desa wisata mandiri.
Lagu “Desa Bulak, Desa Wisata Mandiri” ditulis Deden Rangga dan Kang Asep, dengan aransemen oleh Kang Asep. Lirik awalnya memakai campuran bahasa Jawa dan Indonesia. Cara tersebut membuat Desa Bulak muncul bukan sebagai nama wilayah semata, tetapi sebagai kampung yang mempunyai ingatan, pekerjaan, dan orang-orang yang masih menjaganya.

Dari Pangeran Suryanegara sampai Tanah Pertanian
Bagian awal lagu membawa pendengar lebih dahulu kepada jejak lama. Petilasan Pangeran Suryanegara dan Buyut Bulak menjadi bagian dari cerita Desa Bulak. Keduanya lalu disambungkan dengan kehidupan desa sekarang.
Budaya, ekonomi kreatif, dan pertanian disebut sebagai ciri. Warga diajak bekerja bersama, menjaga keguyuban, dan mengolah tanah agar tetap subur. Dalam susunan seperti itu, masa lalu tidak berdiri sendirian sebagai legenda. Cerita lama perlahan bertemu dengan pekerjaan yang berlangsung setiap hari.
Ada satu pembalikan yang menarik di bagian akhirnya. Lagu menyebut cita-cita menjadi desa mandiri, tetapi jalan menuju kemandirian justru ditempuh dengan kebersamaan. Ada batur, ada sedulur, ada ajakan bersatu, lalu ada pekerjaan yang harus dilakukan bersama.
Mandiri ternyata tidak harus berarti sendiri.
Lirik “Desa Bulak, Desa Wisata Mandiri”
Berikut lirik yang ditulis kembali dengan susunan yang lebih mudah dibaca, tanpa mengubah pokok cerita yang terdapat dalam naskah lagu.
Desa Bulak, Desa Wisata Mandiri
Lirik: Deden Rangga & Kang Asep
Aransemen: Kang Asep
Ana sawijine tempat
seblah kidul kota Dermayu
Sebelah wetan Jatibarang
Desa Bulak desa kenangan
Desa wisata mandiri
Makam kramat kang dadi saksi
Budaya, ekraf lantani
Dadi ciri kang abadi
Petilasan bersejarah
Pangeran Suryanegara
Buyut Banjar saksi nyata
Crita dadi legenda
Ayo batur lan sedulur
Gawe bareng, guyub akur
Olah tanah ambar subur
tanah subur Rakyate makmur
Ayo bersatu, ayo bareng bareng maju
Njaga desa, mbangun nagri
Desa Bulak
Desa mandiri
Sebuah Desa di Dalam Lagu
Lagu biasanya selesai ketika suara berhenti. Nama-nama yang dibawanya belum tentu ikut berhenti.
Pangeran Suryanegara masih disebut. Buyut Bulak masih muncul. Tanah yang subur, budaya, pertanian, dan pekerjaan warga masih berada di dalam bait-baitnya. Bahkan Jatibarang dan Dermayu tetap menjadi petunjuk bagi orang yang belum pernah datang.
Suatu hari wajah Desa Bulak mungkin tidak lagi sama. Bangunan bertambah, pekerjaan berubah, dan generasi yang menyanyikan lagu ini berganti.
Namun sebuah lagu mempunyai kebiasaan aneh.
Kadang-kadang orang lupa kapan pertama kali mendengarnya, tetapi masih ingat nama tempat yang disebut di dalamnya.
