Manuk Banjar mulai hadir dalam kegiatan warga Desa Bulak, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu. Tari yang dikembangkan bersama remaja desa itu kini masuk ke rangkaian perayaan HUT Republik Indonesia. Pada kegiatan jalan sehat, para penari tampil di hadapan anak-anak, remaja, orang tua, dan warga yang berkumpul di sekitar lokasi acara.
Pertunjukan membawa Manuk Banjar ke suasana yang berbeda dari latihan. Para remaja yang sebelumnya mengulang gerak, menyesuaikan tempo, dan mengatur formasi kini berhadapan langsung dengan warga. Sejumlah penonton mendekat. Sawer diberikan kepada penari. Beberapa warga ikut menggerakkan tubuh mengikuti irama. Tari mulai memperoleh tanggapan dari masyarakat yang menjadi tempatnya tumbuh.

Dari Desa Bulak ke Tubuh Tari
Perjalanan Manuk Banjar bermula dari pembacaan terhadap kehidupan budaya Desa Bulak dan wilayah sekitarnya. Sungai Cimanuk, Mangga Gedong Gincu, Singa Depok, Situs Buyut Banjar, makam, ziarah, serta cerita mengenai monyet di kawasan keramat menjadi bahan yang kemudian dibawa ke dalam penciptaan tari.
Situs Buyut Banjar menjadi salah satu sumber penting. Cerita mengenai makam, kunjungan warga, dan monyet yang hidup di sekitar situs telah lama dikenal masyarakat. Dari sana muncul sejumlah bahan gerak dan karakter. Kelincahan monyet memberi kemungkinan bagi gerak tubuh. Imaji burung terhubung dengan Manuk dan Cimanuk. Singa Depok membawa bentuk arak-arakan. Mangga Gedong Gincu menghubungkan tari dengan kehidupan agraris masyarakat Indramayu.
Bahan-bahan tersebut kemudian disusun ke dalam bentuk pertunjukan. Dr. Deden Haerudin, M.Sn. membaca hubungan antara sumber budaya dan tubuh tari melalui gerak, irama, properti, karakter, dan susunan koreografi. Topeng, Sintren, dan Warung Doyong menjadi tiga bagian yang kuat dalam pengembangan Manuk Banjar. Di dalamnya hadir mincid, nangreu, kewer, permainan sampur, gerak bahu, serta perubahan arah tubuh.
Budaya populer masuk melalui bentuk yang dekat dengan pengalaman remaja. Kacamata digunakan dalam bagian Sintren. Musik Pantura memberi irama yang mudah diikuti tubuh. Gerak mincid menjaga langkah terus bergerak, sementara tangan, bahu, kepala, dan sampur membentuk variasi yang dapat dimainkan bersama. Unsur-unsur tersebut membantu para remaja memasuki tari melalui bentuk yang sudah akrab dalam kehidupan mereka.
Dua Puluh Satu Remaja Membawa Manuk Banjar
Proses pelatihan melibatkan 21 remaja Desa Bulak. Mereka mempelajari urutan gerak, menyamakan tempo, mengatur tenaga, berpindah posisi, dan menjaga hubungan dengan penari lain. Dari latihan itu, bahan yang sebelumnya berada dalam cerita, situs, arak-arakan, musik, dan kehidupan sehari-hari mulai memperoleh bentuk melalui tubuh generasi muda.
Latihan juga membuat tari berubah dari susunan koreografi menjadi pengalaman bersama. Setiap gerak harus diingat, dicoba, diulang, dan disesuaikan dengan gerak orang lain. Tubuh remaja menjadi tempat bertemunya bahan budaya Desa Bulak dengan pengalaman mereka sendiri sebagai generasi muda yang hidup dekat dengan musik populer, media digital, dan pergaulan sehari-hari.
Dari Manuk Bulak Menjadi Manuk Banjar
Perubahan juga terjadi pada nama tari. Pada tahap awal, karya ini dikenal sebagai Manuk Bulak. Nama tersebut berkaitan dengan Cimanuk dan Desa Bulak sebagai tempat pengembangan tari. Setelah warga menyaksikan pertunjukan, muncul usulan agar nama Manuk Banjar digunakan. Banjar mengarah pada Situs Buyut Banjar yang sudah kuat dikenal masyarakat setempat.
Usulan tersebut memperlihatkan keterlibatan warga dalam perkembangan karya. Nama Manuk Banjar muncul setelah masyarakat menghubungkan tari yang mereka saksikan dengan tempat yang mereka kenal. Pencipta menyusun bentuk tari, remaja membawanya melalui tubuh, dan warga memberi nama yang terasa dekat dengan ingatan mereka tentang desa.
Nama kemudian menjadi bagian dari perjalanan tari. Manuk Bulak menunjukkan tempat penciptaan dan hubungan dengan Cimanuk. Manuk Banjar membawa perhatian lebih dekat kepada Situs Buyut Banjar. Perubahan ini lahir dari percakapan antara karya dan masyarakat yang menyaksikannya.
Masuk ke Perayaan HUT RI
Setelah melalui proses penciptaan, pelatihan, dan perubahan nama, Manuk Banjar kemudian masuk ke perayaan HUT RI. Jalan sehat menjadi salah satu ruang pertemuannya dengan masyarakat. Perayaan kemerdekaan membawa warga keluar rumah dan berkumpul dalam kegiatan bersama. Bendera Merah Putih memenuhi jalan desa. Musik terdengar di sekitar lokasi acara. Anak-anak, remaja, dan orang tua berada dalam ruang yang sama. Manuk Banjar tampil di tengah suasana tersebut.
Kehadiran tari dalam perayaan ini menarik perhatian Dr. Fachri Helmanto, M.Pd. dari sisi pengalaman masyarakat. Gerak yang dipelajari penari selama latihan mulai bertemu dengan pengalaman penonton. Sebagian warga menyaksikan dari dekat. Sebagian memberi sawer. Ada pula yang mengikuti irama dengan gerakan tubuh. Respons tersebut menunjukkan bagaimana masyarakat menerima pertunjukan melalui tindakan yang dapat diamati langsung.
Sawer menjadi salah satu bentuk tanggapan yang muncul. Uang diberikan ketika penari sedang tampil, sementara musik dan gerak terus berjalan. Di sekelilingnya, penonton memberi perhatian dan ikut membangun suasana. Pertunjukan kemudian berlangsung sebagai kegiatan bersama yang melibatkan penari dan warga dalam ruang yang sama.
Ketika Lagu Desa Bulak Kembali kepada Warga
Lagu Desa Bulak turut membawa cerita tentang tempat tersebut. Lirik yang ditulis Deden Rangga bersama Kang Asep menyebut Desa Bulak sebagai desa wisata mandiri. Di dalamnya terdapat makam keramat, budaya, ekonomi kreatif, pertanian, Pangeran Suryanegara, Buyut Bulak, kesuburan tanah, keguyuban, serta ajakan membangun desa bersama.
Ketika lagu itu dinyanyikan di Desa Bulak, warga mendengar nama dan kehidupan desanya dalam sebuah pertunjukan. Makam, pertanian, budaya, dan kehidupan bersama yang disebut dalam lirik berada dekat dengan pengalaman mereka sehari-hari. Lagu dan tari membawa gambaran tentang Desa Bulak kepada masyarakat Desa Bulak sendiri.
Pertunjukan kemudian mempertemukan beberapa lapisan sekaligus. Ada tari yang dibentuk dari pembacaan terhadap budaya desa. Ada remaja yang mempelajarinya. Ada lagu yang menyebut desa, sejarah, dan kehidupan masyarakat. Semuanya hadir dalam perayaan kemerdekaan yang diikuti warga.
Menunggu Pengulangan
Rangkaian HUT RI memberi Manuk Banjar kesempatan untuk hadir kembali di tengah masyarakat. Perkembangannya selanjutnya dapat dilihat dari hal-hal yang nyata. Tari dapat kembali dipentaskan dalam kegiatan desa. Remaja lain dapat mulai mempelajarinya. Nama Manuk Banjar dapat semakin sering digunakan warga. Bagian gerak tertentu mungkin mulai dikenali penonton. Lagu Desa Bulak juga dapat kembali dinyanyikan pada kegiatan bersama.
Dari sana akan terlihat bagaimana Manuk Banjar berkembang setelah penciptaan dan pelatihan. Koreografi memberi bentuk awal. Remaja Desa Bulak mempelajarinya dan membawanya ke panggung. Warga mengusulkan nama Manuk Banjar dan memberi tanggapan ketika tari tampil. Perayaan HUT RI kemudian memberi tempat bagi tari itu untuk hadir di tengah kegiatan masyarakat. Perjalanan Manuk Banjar kini bergerak bersama warga Desa Bulak.
