Fachri Helmanto Raih Doktor, IPOP Membaca Budaya Populer dalam Cerita Anak

Ujian terbuka promosi doktor Fachri Helmanto di Sekolah Pascasarjana Universitas Negeri Jakarta mempertemukan dunia anak dengan budaya populer yang mengisi kehidupan sehari-hari. Film, komik, gim, bacaan, makanan, figur populer, keluarga, sekolah, dan lingkungan lokal dibaca sebagai pengalaman yang dapat berpindah ke dalam cerita anak.

Dalam ujian promosi doktor Program Doktor Linguistik Terapan tersebut, Fachri mempertahankan disertasi berjudul “Imajinasi Populer: Proses Imajinasi Penulis Anak.” Ia dinyatakan lulus dengan predikat pujian dan menyelesaikan studi doktoralnya dalam enam semester.

Penelitian ini berangkat dari fenomena yang dekat dengan kehidupan anak. Anak menonton film, membaca komik, memainkan gim, mengikuti figur populer, mengenal makanan tertentu, mendengar cerita keluarga, dan hidup dalam ruang sosial yang terus berubah. Fragmen pengalaman itu hadir kembali dalam cerita melalui nama tokoh, latar, tindakan, emosi, konflik, dan penyelesaian.

Cerita anak kemudian tampak sebagai ruang pertemuan pengalaman lokal dan simbol budaya populer. Rumah, sekolah, desa, kota, toko, gawai, tokoh animasi, pahlawan super, karakter gim, makanan, dan adegan media dapat hadir berdampingan dalam satu dunia naratif. Pengalaman yang semula tersebar memperoleh bentuk baru melalui bahasa.

Fachri Helmanto Raih Doktor

Fachri merumuskan proses tersebut sebagai Imajinasi Populer atau IPOP. Dalam disertasinya, IPOP dipahami sebagai kesadaran individu yang tumbuh dari pengalaman dan perkembangan kognitif, mengambil bentuk melalui lingkungan budaya populer, lalu diolah dan distrukturkan menjadi cerita. Budaya populer ditempatkan sebagai medan simbolik yang ikut membentuk cara anak menyusun pengalaman.

Ujian promosi doktor dipimpin oleh Prof. Dr. M. Japar, M.Si. sebagai ketua sidang. Fachri dibimbing oleh Prof. Dr. Endry Boeriswati, M.Pd. sebagai promotor dan Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum. sebagai kopromotor. Dewan penguji terdiri atas Prof. Dr. Endry Boeriswati, M.Pd., Prof. Dr. Novi Anoegrajekti, M.Hum., Prof. Dr. Fathiaty Murtadho, M.Pd., Dr. Saifur Rohman, M.Hum., Dr. Helvy Tiana Rosa, M.Hum., dan Prof. Dr. Suminto A. Sayuti.

See also  ISHEL 2026: Ketika Bahasa Mempertemukan Memori, Pantun, dan Pendidikan Berkelanjutan

Di ruang sidang, cerita anak hadir sebagai jejak pengalaman budaya. Pertanyaan para penguji bergerak pada posisi budaya populer, proses kreatif penulis anak, dan kebaruan IPOP sebagai model teoretik. Percakapan itu menempatkan cerita anak sebagai ruang bahasa yang menyimpan cara anak mengalami, memilih, dan menyusun dunia simbolik di sekitarnya.

Penelitian ini menggunakan pendekatan fenomenologi naratif. Fenomenologi membaca cara pengalaman hadir dalam kesadaran anak, sementara analisis naratif membaca cara pengalaman itu disusun menjadi tokoh, latar, konflik, dan resolusi. Subjek penelitian berasal dari sejumlah wilayah Indonesia dan Thailand, dengan rentang usia penulis anak 7–15 tahun.

Melalui pendekatan tersebut, cerita anak dibaca dari jejak bahasanya. Diksi, nama tokoh, verba tindakan, ekspresi emosi, penanda ruang, dan penutupan cerita menjadi pintu masuk untuk melihat proses imajinasi. Bahasa menyimpan cara anak mengingat pengalaman, merasakan peristiwa, meniru simbol, memodifikasi bentuk, lalu menyusun cerita.

Temuan utama penelitian menunjukkan bahwa pengalaman menjadi pusat aktivasi proses imajinasi. Anak menulis dari sesuatu yang pernah dilihat, dirasakan, didengar, dibaca, dimainkan, atau dibayangkan ulang. Budaya populer memberi bentuk simbolik kepada pengalaman itu. Struktur kognitif naratif kemudian menyusun pengalaman menjadi rangkaian cerita.

Dalam data cerita anak, pola imajinasi tampak berulang. Tokoh bergerak melalui struktur yang serupa: memiliki keinginan, menghadapi masalah, memasuki konflik, lalu menemukan penyelesaian. Latar cerita membawa tanda pengalaman anak, seperti rumah, sekolah, lingkungan bermain, ruang digital, tempat belanja, tempat makan, atau dunia fantasi yang dipengaruhi media.

Budaya populer hadir melalui figur, citra, adegan, gaya hidup, media, dan pola cerita. Anak mengambil simbol yang beredar di sekitarnya, kemudian mengolahnya melalui peniruan, modifikasi, penggabungan, dan penataan ulang. Tokoh populer dapat berubah menjadi karakter baru. Adegan media dapat dipindahkan ke lingkungan lokal. Konflik dari tontonan dapat disusun ulang dengan pengalaman sekolah, keluarga, atau pertemanan.

Anak tampil sebagai pelaku pengolahan simbol. Ia hidup di antara budaya lokal dan budaya populer, lalu memilih bagian yang berkesan, menggabungkannya dengan pengalaman pribadi, dan membentuknya menjadi cerita. Imajinasi bekerja melalui hubungan antara ingatan, perasaan, tiruan, struktur, dan bahasa.

See also  Pawai Obor 1 Muharram 1448 H: Cahaya yang Membuka Waktu Baru

Model proses IPOP bergerak melalui lima tahap: membayangkan, merasakan, meniru, menyusun, dan menulis. Proses ini berlangsung secara sirkular. Cerita yang telah ditulis dapat menjadi pengalaman baru, lalu kembali mengaktifkan proses imajinasi berikutnya.

Tahap membayangkan memperlihatkan saat anak menghadirkan kembali pengalaman dalam kesadaran. Tahap merasakan memberi warna emosional pada pengalaman itu. Tahap meniru memperlihatkan perpindahan simbol dari budaya populer, bacaan, media, atau lingkungan sekitar. Tahap menyusun menata pengalaman menjadi struktur naratif. Tahap menulis memberi bentuk akhir melalui bahasa.

Diana Taylor menyebut pengetahuan budaya yang bergerak melalui tindakan, suara, tubuh, gestur, dan pengulangan sebagai repertoire. Dalam konteks cerita anak, repertoire tampak pada kebiasaan bermain, cara berbicara, pola emosi, tindakan tokoh, serta fragmen budaya populer yang terus muncul dalam narasi. Anak membawa pengalaman yang pernah dilakukan, ditonton, dimainkan, dan dirasakan ke dalam cerita yang ditulis.

Stuart Hall membaca representasi sebagai proses pembentukan makna melalui tanda, citra, bahasa, dan praktik budaya. Dalam penelitian Fachri, cerita anak memperlihatkan kerja representasi itu. Anak mengambil citra dari film, komik, gim, bacaan, makanan, keluarga, dan lingkungan sosial, lalu mengubahnya menjadi tokoh, latar, konflik, dan resolusi. Budaya populer memperoleh makna baru ketika ditempatkan di dalam pengalaman anak.

Ranah budaya populer dalam penelitian ini mencakup feminitas, konsumsi, aktivitas hiburan, ekspresi emosi, paparan media dan bacaan, serta kepasifan reseptif. Feminitas hadir melalui pilihan tokoh, warna, pakaian, relasi, atau citra diri. Konsumsi muncul melalui makanan, benda, hadiah, tempat belanja, atau keinginan memiliki sesuatu. Aktivitas hiburan tampak melalui gim, tontonan, rekreasi, dan permainan.

Ekspresi emosi memberi tenaga pada konflik. Anak menulis tokoh yang takut, senang, marah, sedih, bangga, malu, kecewa, atau lega. Paparan media dan bacaan tampak melalui kemunculan pola cerita, tokoh, atau adegan yang dekat dengan film, komik, gim, dan buku. Kepasifan reseptif memperlihatkan saat anak menerima simbol dari luar, lalu menjadikannya bahan awal untuk membangun cerita.

See also  ISHEL 2026: Ketika Bahasa Mempertemukan Memori, Pantun, dan Pendidikan Berkelanjutan

Migrasi budaya terjadi ketika simbol dari film, gim, bacaan, makanan, kebiasaan, dan lingkungan sosial berpindah menuju cerita. Perpindahan itu berjalan melalui ingatan, perasaan, peniruan, dan modifikasi. Cerita kemudian menjadi ruang tempat anak menata kembali pengalaman budaya yang tersebar di sekitarnya.

Struktur cerita memperlihatkan cara pengalaman memperoleh bentuk. Pengalaman budaya memperoleh tokoh. Simbol memperoleh ruang dan waktu. Ketegangan pengalaman memperoleh konflik. Harapan dan nilai memperoleh resolusi. Dengan cara itu, cerita anak dapat dibaca sebagai arsip kecil pengalaman budaya.

Kontribusi disertasi Fachri berada pada tiga wilayah: model teoretik Imajinasi Populer, model proses IPOP, serta perangkat pembacaan yang menghubungkan pengalaman, budaya populer, dan struktur kognitif naratif.

Bagi kajian Linguistik Terapan, penelitian ini memperluas cara membaca bahasa anak. Bahasa cerita dipahami sebagai jejak proses imajinasi. Bagi literasi, penelitian ini membuka jalan untuk memahami bagaimana anak menulis dari pengalaman yang telah dipengaruhi media, budaya lokal, dan dunia populer. Bagi pembelajaran menulis, IPOP memberi kemungkinan model pendampingan yang lebih dekat dengan kehidupan simbolik anak.

Luaran penelitian ini dirancang bergerak ke ruang yang lebih luas melalui buku, novel grafis, media visual, maskot, dan produk edukatif. Gagasan akademik memperoleh jalan menuju ruang literasi, kelas, komunitas, dan pembaca anak.

Promosi doktor Fachri Helmanto menghadirkan ujian akademik sebagai peristiwa budaya. Di dalamnya, cerita anak dibaca sebagai ruang tempat pengalaman, media, dan budaya populer saling membentuk. IPOP menjadi pintu untuk melihat kebudayaan dari cara anak menyusun dunia: membayangkan, merasakan, meniru, menyusun, lalu menulis.