Festival Budaya Cai Diraga 2026 menghidupkan tradisi Larung Cai di Ciledug, Kabupaten Cirebon. Air dari sembilan sumber dibawa menuju pertemuan dua sungai, menyimpan cerita tentang rasa syukur, ingatan banjir, dan hubungan manusia dengan alam.
Air dari sembilan sumber mata air dikumpulkan untuk dibawa menuju sungai. Bagi orang yang terbiasa membuka keran setiap pagi, pekerjaan tersebut mungkin terasa ganjil. Sungai sudah mempunyai airnya sendiri. Mengapa masyarakat perlu membawa air dari tempat lain hanya untuk menyatukannya kembali dengan aliran sungai?
Pertanyaan tersebut membawa perhatian kepada Festival Budaya Cai Diraga 2026 yang dijadwalkan berlangsung pada 30 Oktober–1 November di Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat. Penyelenggaraan tahun ketujuh ini dipusatkan di area parkir selatan Jempol Waterboom dengan tema Jati Purwa. Yayasan Midang Waringin Jati bersama masyarakat, para sesepuh, dan pihak pemerintah daerah mempersiapkan kegiatan yang mempertemukan tradisi Larung Cai dengan pertunjukan seni serta kegiatan budaya.

Dalam prosesi Larung Cai, air dari sembilan sumber di wilayah Kawedanan Ciledug dibawa menuju pertemuan Sungai Cijangkelok dan Cisanggarung. Air yang sebelumnya berada di tempat berbeda dipertemukan melalui rangkaian kegiatan adat. Prosesi tersebut menjadi salah satu cara masyarakat mengungkapkan rasa syukur sekaligus mengingat pentingnya sumber air bagi kehidupan.
Namun, perjalanan Cai Diraga juga menyimpan pengalaman yang lebih rumit. Di wilayah yang sama, masyarakat pernah menghadapi banjir besar akibat luapan sungai. Air yang dibutuhkan untuk mempertahankan kehidupan ternyata juga menjadi bagian dari pengalaman kehilangan.
Ketika Air Membawa Kehilangan
Sekitar 2018, banjir besar melanda kawasan Ciledug di Kabupaten Cirebon. Luapan Sungai Cisanggarung menyebabkan ribuan rumah terendam dan menimbulkan kerugian bagi masyarakat. Pengalaman tersebut meninggalkan persoalan yang harus dihadapi warga setelah air surut.
Dalam wawancara yang diterbitkan Kabar Cirebon pada September 2024, Suherman, pembina Yayasan Midang Waringin Jati, menceritakan bahwa pengalaman banjir menjadi bagian dari latar kemunculan kegiatan hiburan rakyat yang kemudian berkembang bersama perayaan Cai Diraga.
Menurut penuturannya, sejumlah pemuda mulai membicarakan kegiatan yang dapat membantu mengembalikan semangat warga setelah menghadapi bencana. Dari pertemuan tersebut, kegiatan kesenian dan perayaan masyarakat memperoleh ruang untuk berkembang.
Kisah tersebut memberi lapisan penting bagi hubungan masyarakat Ciledug dengan air. Sungai mempunyai peran dalam kehidupan sehari-hari, tetapi alirannya juga dapat menimbulkan ancaman ketika meluap. Warga berhadapan dengan kebutuhan menjaga sumber kehidupan sekaligus menghadapi risiko yang berasal dari lingkungan yang sama.
Pengalaman tersebut kemudian menjadi salah satu alasan untuk membaca Cai Diraga melalui hubungan antara tradisi dan kepedulian terhadap alam.
Sembilan Sumber Air dalam Satu Perjalanan
Larung Cai menjadi bagian utama Festival Budaya Cai Diraga. Prosesi melibatkan air yang diambil dari sembilan sumber di wilayah Kawedanan Ciledug. Air tersebut dibawa dalam arak-arakan adat sebelum disatukan dengan aliran sungai.
Dalam penjelasan penyelenggaraan festival, pertemuan air dimaknai sebagai lambang persatuan, rasa syukur, dan hubungan harmonis manusia dengan alam. Prosesi memberi kesempatan kepada masyarakat untuk kembali memperhatikan sumber air yang selama ini mendukung kehidupan mereka.
Air mempunyai kedudukan yang khas dalam kehidupan sehari-hari. Manusia menggunakannya untuk minum, memasak, membersihkan tubuh, mengolah tanah, dan memenuhi berbagai kebutuhan. Hampir setiap kegiatan memerlukan air dalam jumlah dan cara yang berbeda.
Namun, kedekatan tersebut sering membuat keberadaan air dianggap biasa. Ketika air tersedia, orang dapat menggunakannya tanpa banyak memikirkan sumber dan perjalanan yang membawanya sampai ke rumah. Perhatian biasanya meningkat ketika pasokan terganggu, sungai tercemar, atau banjir mulai mengancam permukiman.
Melalui Larung Cai, sumber air yang berada di tempat berbeda memperoleh perhatian dalam satu peristiwa bersama. Masyarakat mempunyai kesempatan mengenali kembali hubungan antara mata air, sungai, dan kehidupan yang berlangsung di sekitarnya.
Prosesi tersebut tentu tidak dengan sendirinya menyelesaikan persoalan lingkungan. Namun, tradisi dapat membuka ruang pertemuan dan mengingatkan masyarakat bahwa sumber air memerlukan perhatian yang berkelanjutan.
Dari Tradisi Menjadi Festival Budaya
Festival Cai Diraga berkembang menjadi kegiatan tahunan yang menggabungkan prosesi adat dengan berbagai bentuk seni pertunjukan. Pada penyelenggaraan 2025, misalnya, ratusan penari Topeng Jaya Perbangsa dari Sanggar Wismala Ciledug turut meramaikan kegiatan. Festival juga menghadirkan kirab budaya, pertunjukan kesenian, serta kegiatan masyarakat.
Penyelenggaraan kegiatan di berbagai lokasi Ciledug memperlihatkan keterlibatan lingkungan masyarakat yang semakin luas. Pada 2025, kegiatan pertunjukan dipusatkan di sekitar Alun-alun Kecamatan Ciledug, sedangkan prosesi larung berlangsung di kawasan Ciledug Wetan.
Untuk 2026, penyelenggara memilih tema Jati Purwa. Tema tersebut diarahkan untuk mempertemukan ingatan terhadap warisan leluhur dengan kehidupan masyarakat masa kini. Rangkaian festival juga direncanakan memberi ruang kepada seniman, komunitas, dan pelaku usaha lokal.
Kehadiran kegiatan ekonomi kreatif membuka kemungkinan bagi warga memperkenalkan makanan, kerajinan, serta produk yang berkembang di lingkungan mereka. Pengunjung memperoleh kesempatan mengenali Ciledug melalui pertunjukan, kegiatan adat, dan interaksi dengan masyarakat.
Perubahan tersebut memperlihatkan bagaimana tradisi dapat berkembang menjadi kegiatan budaya yang menjangkau lebih banyak orang. Namun, semakin luas kegiatan festival, semakin penting pula menjaga hubungan antara kemeriahannya dengan persoalan yang sejak awal menjadi perhatian masyarakat.
Dalam Cai Diraga, persoalan tersebut berkaitan dengan air.
Ketika Manusia Selalu Membutuhkan Lebih Banyak
Kebutuhan manusia terhadap air terus berlangsung sepanjang kehidupan. Pertanian, rumah tangga, kegiatan usaha, dan pembangunan permukiman semuanya memerlukan pasokan yang mencukupi. Ketika kebutuhan bertambah, perhatian terhadap ketersediaan serta kualitas air menjadi semakin penting.
Persoalan muncul ketika air hanya dipandang sebagai sesuatu yang dapat diambil dan digunakan. Sungai menerima berbagai akibat dari kegiatan manusia, sementara perubahan penggunaan lahan dapat memengaruhi keadaan lingkungan di sekitarnya.
Hubungan tersebut menghadirkan ironi. Manusia membutuhkan air agar dapat hidup, tetapi cara manusia memanfaatkan lingkungan dapat ikut menentukan kualitas air yang tersedia pada masa berikutnya.
Festival Cai Diraga mengajak masyarakat memperhatikan hubungan tersebut melalui pengalaman budaya. Air tidak hanya dihitung berdasarkan banyaknya kebutuhan yang dapat dipenuhi. Sumber dan perjalanan air juga memperoleh tempat dalam ingatan serta kegiatan bersama.
Akan tetapi, rasa syukur memerlukan kelanjutan di luar prosesi. Perhatian terhadap kebersihan sungai, pengelolaan sampah, keberadaan mata air, dan pengurangan risiko banjir membutuhkan tindakan nyata dari masyarakat serta lembaga yang memiliki kewenangan.
Dalam keterangan yang disampaikan pada 2024, Suherman juga menyinggung perlunya upaya nyata untuk mengurangi persoalan banjir di wilayah Ciledug. Tradisi dapat menjadi pengingat, sedangkan perubahan kondisi lingkungan memerlukan pekerjaan yang lebih panjang.
Air yang Kembali, Ingatan yang Tinggal
Festival Budaya Cai Diraga 2026 direncanakan berlangsung selama tiga hari, dari 30 Oktober hingga 1 November. Prosesi Larung Cai menjadi bagian utama yang menghubungkan sembilan sumber air dengan pertemuan Sungai Cijangkelok dan Cisanggarung.
Bagi pengunjung, festival menawarkan kesempatan mengenali tradisi masyarakat Cirebon Timur melalui pengalaman yang berbeda dari kegiatan wisata biasa. Ada prosesi adat, kegiatan seni, dan pertemuan masyarakat yang tumbuh di sekitar kehidupan sungai.
Namun, cerita Cai Diraga menjadi lebih menarik ketika pengalaman banjir masyarakat ikut diperhatikan. Sungai bukan hanya latar sebuah kegiatan budaya. Ia telah menjadi bagian dari kehidupan warga, termasuk ketika air membawa manfaat maupun ketika alirannya menimbulkan kerugian.
Prosesi membawa air dari sembilan sumber menuju sungai akhirnya menyimpan hubungan yang tidak sederhana. Masyarakat mensyukuri sesuatu yang dibutuhkan setiap hari, sambil hidup bersama risiko yang juga berasal dari air.
Setelah festival berakhir, air yang dibawa dalam prosesi telah menyatu dengan aliran sungai. Para peserta kembali ke kegiatan masing-masing, sementara pertunjukan dan keramaian perlahan selesai.
Sungai Cisanggarung tetap mengalir. Di sekitarnya, masyarakat masih membutuhkan air untuk menjalani hari berikutnya.
