Festival Kampung Silat 2026 dijadwalkan berlangsung pada 29–30 Oktober di Desa Nagarakembang, Kecamatan Cingambul, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Di tengah sawah terasering, para pesilat akan memperlihatkan keterampilan yang diwariskan selama beberapa generasi.
Seseorang yang sedang belajar pencak silat harus mengenali kapan tangan bergerak, kaki melangkah, dan tubuh menghindar. Satu gerakan yang dilakukan terlalu cepat dapat mengubah keseimbangan. Ketika berhadapan dengan lawan, pesilat juga perlu memperhatikan jarak dan kemungkinan gerakan berikutnya. Tenaga yang besar ternyata membutuhkan kemampuan untuk mengendalikan diri.
Pada Kamis dan Jumat, 29–30 Oktober 2026, keterampilan tersebut dijadwalkan hadir dalam Festival Kampung Silat di kawasan sawah terasering Desa Nagarakembang, Kecamatan Cingambul, Kabupaten Majalengka, Jawa Barat. Kegiatan dimulai pukul 08.00 WIB dengan menghadirkan eksibisi silat tradisional, pertemuan berbagai paguyuban, serta kegiatan ekonomi kreatif masyarakat. Festival ini diselenggarakan melalui dukungan Pemerintah Kabupaten Majalengka bersama Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Jawa Barat. Pengunjung mempunyai kesempatan mengenali pencak silat sebagai keterampilan tubuh sekaligus bagian dari kehidupan budaya masyarakat.

Desa Nagarakembang dikenal sebagai salah satu lingkungan pewarisan pencak silat di Majalengka. Pengetahuan mengenai gerak, tenaga, dan disiplin dipelajari melalui kegiatan latihan yang berlangsung lintas generasi. Festival membawa kegiatan tersebut ke ruang pertemuan yang lebih luas, sekaligus memperkenalkan potensi budaya desa kepada masyarakat dari luar daerah.
Kampung yang Tumbuh Bersama Pencak Silat
Salah satu pusat kegiatan pencak silat di Desa Nagarakembang adalah Padepokan Fajar Kancana Kumpay Kuning Putra. Riwayat padepokan tersebut berkaitan dengan perjalanan Mih Tati yang mempelajari pencak silat di Bandung pada dekade 1970-an. Pengetahuan yang diperoleh kemudian dibawa kembali ke Nagarakembang dan diajarkan kepada keluarga serta anak-anak di lingkungan sekitar. Pada 1997, kegiatan tersebut berkembang melalui pendirian padepokan.
Perjalanan itu memperlihatkan bagaimana sebuah keterampilan dapat bertahan melalui hubungan antarmanusia. Pengetahuan yang dibawa seseorang dari tempat lain mulai dipelajari dalam lingkungan keluarga, kemudian berkembang menjadi kegiatan bersama. Anak-anak yang semula belajar dari orang yang lebih tua mempunyai kesempatan meneruskan keterampilan kepada generasi berikutnya.
Pencak silat tidak hanya mengajarkan cara melakukan serangan dan pertahanan. Dalam praktiknya, pesilat mempelajari perpindahan berat tubuh, pengaturan jarak, ketepatan gerak, dan hubungan dengan lawan. Pada bentuk seni pertunjukan, unsur tersebut berkembang melalui susunan jurus, irama, dan karakter penyajian.
Setiap gerakan memerlukan perhatian terhadap keadaan yang sedang dihadapi. Tangan dapat bergerak untuk menyerang, tetapi keputusan menggerakkannya juga bergantung pada posisi tubuh dan jarak dengan orang lain. Keterampilan fisik akhirnya berjalan bersama kemampuan membaca situasi.
Ketika Sawah Menjadi Arena Budaya
Festival Kampung Silat 2026 mengambil tempat di kawasan sawah terasering Desa Nagarakembang. Lingkungan pertanian menjadi bagian dari pengalaman pengunjung yang ingin menyaksikan kesenian tradisional di luar gedung pertunjukan. Pilihan lokasi tersebut mempertemukan kegiatan budaya dengan lanskap yang dekat dengan kehidupan masyarakat setempat.
Penyelenggara mengumumkan keterlibatan ratusan pesilat dari berbagai paguyuban, termasuk kelompok lokal serta peserta dari luar daerah. Eksibisi silat tradisional menjadi kegiatan utama, disertai kesempatan berinteraksi dengan para pelaku seni. Pengunjung juga dapat menikmati bazar kuliner dan kerajinan khas Sunda yang melibatkan pelaku ekonomi kreatif masyarakat.
Pertemuan berbagai paguyuban membuka kemungkinan memperkenalkan keragaman pencak silat kepada khalayak. Setiap kelompok mempunyai pengalaman latihan dan bentuk penyajian yang berkembang melalui lingkungan perguruannya. Dalam sebuah festival, perbedaan tersebut dapat menjadi sumber pengetahuan sekaligus daya tarik pertunjukan.
Bagi warga Nagarakembang, kegiatan ini juga membuka kesempatan memperkenalkan desa melalui keterampilan yang telah lama dipelihara. Kehadiran pengunjung dapat menghubungkan kegiatan seni dengan usaha makanan, kerajinan, dan pelayanan masyarakat setempat. Budaya memperoleh ruang untuk dikenal lebih luas melalui pengalaman yang berlangsung langsung di lingkungan asalnya.
Belajar Menyerang, Belajar Menahan Diri
Seseorang dapat datang ke tempat latihan pencak silat dengan berbagai alasan. Ada yang ingin menguasai bela diri, meningkatkan kebugaran, mengikuti teman, atau meneruskan kebiasaan keluarga. Dalam perjalanan belajar, setiap murid berhadapan dengan tuntutan menguasai gerakan dan memahami cara menggunakannya.
Kemampuan menyerang sering dikaitkan dengan kekuatan. Seseorang yang mampu bergerak cepat dan menghasilkan tenaga besar dapat terlihat lebih unggul daripada orang yang belum menguasai keterampilan tersebut. Namun, latihan pencak silat juga menuntut ketelitian agar gerakan dapat dilakukan dengan tepat.
Seorang murid yang terlalu terburu-buru dapat kehilangan keseimbangan. Gerakan yang dilakukan tanpa memperhatikan jarak berpotensi mengganggu pasangan latihan. Ketika kekuatan digunakan tanpa pengendalian, keterampilan yang seharusnya dipelajari justru dapat menimbulkan persoalan.
Di sinilah pencak silat memberi ruang untuk memahami hubungan antara tenaga dan keputusan. Seseorang mempelajari berbagai kemungkinan tindakan melalui gerak tubuh, tetapi kemampuan melakukan tindakan tidak selalu berarti tindakan tersebut harus dilakukan.
Dalam kehidupan sehari-hari, amarah dapat membuat seseorang ingin segera membalas perlakuan orang lain. Sementara itu, latihan bela diri menuntut perhatian terhadap akibat setiap gerakan. Kemampuan menahan diri menjadi bagian penting dari keselamatan dan tanggung jawab dalam proses belajar.
Pertemuan antara kekuatan dan pengendalian tersebut membuat pencak silat menarik dibaca sebagai pengalaman budaya. Keterampilan tubuh mempunyai hubungan dengan cara seseorang mengambil keputusan, mengenali batas, dan memperlakukan orang lain.
Kampung yang Menjaga Silat, tetapi Masih Menunggu Listrik
Di balik perkembangan Kampung Silat Nagarakembang, terdapat persoalan kehidupan masyarakat yang juga memerlukan perhatian. Pada Juni 2026, laporan media setempat mengungkap bahwa puluhan rumah di Blok Cariu, salah satu kawasan yang dikenal melalui kegiatan pencak silat, belum memperoleh sambungan listrik.
Kepala Desa Nagarakembang, Oon Aunul Qudus, menjelaskan bahwa kendala tersebut berkaitan dengan jarak jaringan listrik dari permukiman yang telah terlayani. Blok Cariu berada di kawasan berbukit, sekitar 600 meter dari permukiman terdekat yang mempunyai akses listrik. Kondisi jalan yang menanjak turut menyulitkan pengembangan jaringan.
Menurut laporan tersebut, beberapa warga masih mengandalkan lampu petromaks atau lampu tempel untuk penerangan. Pemerintah desa telah berupaya mengajukan pengembangan jaringan kepada Perusahaan Listrik Negara, tetapi realisasinya masih menghadapi kendala ketika laporan diterbitkan.
Keadaan tersebut menunjukkan dua perjalanan pembangunan yang berlangsung dalam lingkungan yang sama. Kampung Silat mulai memperoleh perhatian sebagai tujuan wisata budaya, sementara sejumlah rumah warga masih menghadapi keterbatasan infrastruktur dasar. Perkembangan budaya dan kebutuhan sehari-hari masyarakat mempunyai hubungan yang perlu dilihat secara bersamaan.
Festival dapat membantu memperluas perhatian terhadap potensi Desa Nagarakembang. Pengunjung datang mengenali kesenian, sementara pelaku usaha lokal memperoleh kesempatan memperkenalkan produk mereka. Perhatian yang tumbuh melalui kegiatan budaya juga dapat membuka pembicaraan mengenai kondisi kehidupan masyarakat yang selama ini menjaga kesenian tersebut.
Pencak silat telah menjadi kebanggaan warga melalui kerja panjang sejumlah generasi. Namun, kehidupan para pelakunya berlangsung di luar arena latihan dan pertunjukan. Mereka juga mempunyai kebutuhan akan penerangan, akses jalan, pendidikan, dan fasilitas yang mendukung kegiatan sehari-hari.
Warisan yang Diteruskan Melalui Gerakan
Festival Kampung Silat 2026 mengusung semangat Bukan Sekadar Festival, Ini Tentang Apa yang Kita Tinggalkan. Gagasan tersebut berkaitan dengan persoalan pewarisan yang telah lama menjadi bagian dari kehidupan pencak silat di Nagarakembang.
Sebuah padepokan dapat mempertahankan kegiatannya ketika masih ada orang yang bersedia belajar dan mengajar. Keterampilan yang dimiliki seorang guru memperoleh kehidupan baru ketika dipelajari muridnya. Gerakan kemudian diteruskan melalui latihan, pengulangan, dan pengalaman yang berlangsung selama bertahun-tahun.
Festival mempunyai peran memperkenalkan pekerjaan tersebut kepada masyarakat lebih luas. Pertunjukan dapat menarik perhatian pengunjung, sedangkan pertemuan antarpaguyuban membuka ruang pertukaran pengalaman. Kegiatan ekonomi kreatif juga mempertemukan perkembangan kesenian dengan peluang usaha masyarakat.
Namun, keberlanjutan pencak silat tetap membutuhkan ruang latihan, keterlibatan generasi muda, dan dukungan terhadap para pelakunya. Pengakuan terhadap Kampung Silat dapat menjadi awal untuk membangun hubungan yang lebih panjang antara kegiatan budaya dan kehidupan masyarakat.
Pada 29–30 Oktober 2026, jurus-jurus pencak silat dijadwalkan hadir di tengah sawah terasering Nagarakembang. Para peserta akan memperlihatkan keterampilan yang diperoleh melalui perjalanan latihan masing-masing. Pengunjung dapat menikmati pertunjukan sekaligus mengenali orang-orang yang menjaga tradisi tersebut.
Sesudah festival, para pesilat akan kembali kepada kegiatan mereka. Ada gerakan yang perlu diulang, murid yang baru mulai belajar, dan pelatih yang kembali membimbing. Di sebuah kampung yang sebagian rumahnya dilaporkan masih menggunakan lampu petromaks pada pertengahan tahun, pengetahuan pencak silat telah lama menemukan jalan untuk terus diwariskan.
