Bagi Cantika Ramadani, penari asal Ciledug, Kabupaten Cirebon, Festival Budaya Cai Diraga merupakan tempat bertemunya penghormatan terhadap air dan keinginan para seniman untuk terus berkarya.
Seorang penari dapat berlatih selama berbulan-bulan untuk mempersiapkan sebuah pertunjukan. Gerakan dihafalkan, irama dipelajari, dan kesalahan diperbaiki melalui pengulangan. Namun, kemampuan yang diperoleh melalui latihan masih membutuhkan tempat untuk dipertunjukkan. Di Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, Festival Budaya Cai Diraga menjadi salah satu kesempatan bagi para seniman untuk mempertemukan hasil latihan dengan masyarakat.
Cantika Ramadani mengenal festival tersebut sebagai bagian dari kehidupan budaya daerah asalnya. Sebagai penari yang pernah terlibat dalam Cai Diraga, ia melihat bagaimana kegiatan penghormatan terhadap air berkembang menjadi perayaan yang menghadirkan pertunjukan seni, kirab budaya, dan kegiatan usaha masyarakat. Festival yang berlangsung setiap tahun memberi kesempatan kepada seniman Ciledug untuk tampil bersama peserta dari berbagai daerah.

“Menurut saya, acara ini bagus karena sekarang menjadi hiburan, jadi bisa mengenalkan budaya-budaya di situ, terutama sumber airnya,” tutur Cantika dalam wawancara pada 28 Oktober 2026.
Bagi Cantika, kegiatan tersebut mempunyai arti yang melampaui hiburan. Ada kesempatan bagi para pelaku seni untuk berkembang, sementara masyarakat memperoleh ruang untuk memperkenalkan kebudayaan yang masih dipertahankan hingga sekarang.
Sungai yang Menghubungkan Kehidupan Warga
Cai Diraga mempunyai hubungan dengan kehidupan masyarakat di sekitar Sungai Cijangkelok dan Cisanggarung. Kedua sungai tersebut menjadi bagian dari lingkungan yang dikenali masyarakat Ciledug melalui kegiatan sehari-hari dan pengalaman hidup bersama air.
Dalam penuturan Cantika, kata cai dalam bahasa Sunda berarti air. Ia memahami Cai Diraga sebagai kegiatan yang berkaitan dengan penghormatan terhadap sumber air serta rasa syukur masyarakat terhadap keberadaannya.
“Setahu saya, tentang penghormatan sama air. Makanya dinamai Cai Diraga, karena cai itu air,” jelasnya.
Festival tersebut mempertahankan prosesi Larung Cai sebagai bagian dari kegiatan utama. Air yang berasal dari sembilan sumber di wilayah Kawedanan Ciledug dibawa dalam rangkaian kegiatan adat menuju pertemuan Sungai Cijangkelok dan Cisanggarung. Prosesi tersebut menjadi salah satu cara masyarakat menghadirkan hubungan mereka dengan sumber air melalui kegiatan bersama.
Air yang biasanya digunakan untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari memperoleh perhatian khusus dalam perayaan tersebut. Keberadaan mata air dan sungai diingat melalui arak-arakan, pertemuan warga, serta kegiatan yang diwariskan dalam lingkungan masyarakat.
Namun, bagi Cantika, perkembangan Cai Diraga juga memperlihatkan perubahan menarik. Tradisi yang berhubungan dengan air kini menyediakan ruang bagi berbagai kegiatan seni yang dapat dinikmati masyarakat.
Ketika Tradisi Memberi Tempat kepada Penari
Pentas seni menjadi salah satu bagian yang berkembang dalam penyelenggaraan Cai Diraga. Kelompok tari, sanggar, serta pelaku kesenian memperoleh kesempatan memperkenalkan karya melalui kegiatan yang melibatkan masyarakat Ciledug dan sekitarnya.
Pada penyelenggaraan 2025, sekitar 500 penari Topeng Jaya Perbangsa dari Sanggar Wismala Ciledug turut meramaikan festival. Kehadiran ratusan penari memperlihatkan besarnya keterlibatan pelaku seni dalam rangkaian perayaan budaya tersebut.
Selain pertunjukan tari massal, festival juga menghadirkan seni burok, kirab budaya, dan berbagai penampilan kesenian lainnya. Setiap kelompok membawa pengalaman serta keterampilan yang berkembang melalui kegiatan latihan masing-masing.
Bagi seorang penari, panggung festival mempunyai fungsi berbeda dari ruang latihan. Gerakan yang sebelumnya dipelajari bersama pelatih harus dibawakan dalam situasi pertunjukan. Penari perlu menyesuaikan diri dengan ruang, iringan, kelompok, dan perhatian penonton.
Pengalaman tersebut menjadi bagian penting dari perkembangan kemampuan seni. Keterampilan yang telah dipelajari memperoleh kesempatan untuk digunakan, sementara pertemuan dengan seniman lain membuka kemungkinan mengenali bentuk kesenian yang berbeda.
Cantika melihat kesempatan itu sebagai salah satu kekuatan Cai Diraga.
“Dengan adanya Cai Diraga setahun sekali, bisa membuka peluang para seniman untuk berkembang, karena tidak cuma dari warga Ciledug saja yang ikut berpartisipasi, melainkan banyak yang terlibat di luar daerah,” ungkapnya.
Kehadiran peserta dari berbagai daerah memperluas hubungan yang dapat terbentuk melalui festival. Seniman memperoleh kesempatan bertemu, mengenali karya kelompok lain, dan memperkenalkan kemampuan mereka kepada masyarakat yang lebih luas.
Hasrat yang Membuat Kesenian Terus Bergerak
Keinginan untuk tampil sering menjadi bagian dari perjalanan seorang seniman. Setelah mempelajari keterampilan tertentu, seseorang ingin memperoleh pengalaman baru melalui pertunjukan. Kesempatan tersebut dapat mendorong kegiatan latihan yang lebih tekun serta membuka hubungan dengan pelaku kesenian lain.
Dalam kehidupan para penari, kesempatan tampil tidak selalu datang setiap waktu. Ada kegiatan yang membutuhkan undangan, persiapan kelompok, dan dukungan dari pihak penyelenggara. Karena itu, festival tahunan dapat menjadi salah satu ruang yang dinantikan untuk memperlihatkan perkembangan kemampuan.
Cai Diraga mempertemukan kebutuhan tersebut dengan tradisi masyarakat. Kegiatan yang semula berhubungan dengan penghormatan terhadap air memperoleh bentuk perayaan yang melibatkan semakin banyak pelaku seni.
Pertemuan tersebut juga memperluas cara masyarakat mengenali kebudayaan daerahnya. Seorang pengunjung dapat datang karena tertarik menyaksikan pertunjukan, kemudian memperoleh kesempatan mengenali tradisi Larung Cai. Sebaliknya, masyarakat yang mengikuti prosesi adat dapat menyaksikan berbagai karya yang berkembang di lingkungan seniman.
Melalui kegiatan tersebut, hiburan dan tradisi mempunyai kesempatan saling memperkuat. Pertunjukan membantu memperkenalkan kebudayaan kepada pengunjung, sementara tradisi memberi konteks bagi kegiatan seni yang berlangsung.
Namun, kesempatan tampil juga menimbulkan kebutuhan lain. Para seniman memerlukan ruang berkegiatan di luar perayaan tahunan, termasuk tempat latihan, dukungan pembelajaran, serta kesempatan untuk terus mengembangkan kemampuan mereka.
Festival dapat menjadi salah satu pintu masuk bagi hubungan tersebut. Pengalaman bertemu dan tampil bersama membuka kemungkinan bagi para pelaku seni untuk melanjutkan kegiatan setelah perayaan selesai.
Dari Ciledug untuk Banyak Daerah
Festival Budaya Cai Diraga 2026 dijadwalkan berlangsung pada 30 Oktober hingga 1 November di Kecamatan Ciledug, Kabupaten Cirebon. Penyelenggaraan ketujuh tersebut mengangkat tema Jati Purwa, dengan rangkaian yang menghubungkan tradisi Larung Cai, kegiatan seni, dan kehidupan masyarakat.
Yayasan Midang Waringin Jati bersama masyarakat setempat menjadi bagian dari penyelenggaraan kegiatan. Festival tersebut juga memberi ruang bagi pelaku usaha mikro, kecil, dan menengah untuk memperkenalkan produk kepada pengunjung.
Perkembangan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah tradisi dapat membuka kesempatan bagi berbagai kelompok masyarakat. Seniman memperoleh tempat untuk berkarya, pelaku usaha mempunyai ruang memperkenalkan produk, sedangkan pengunjung dapat mengenali Ciledug melalui pengalaman budaya.
Cantika memandang keberlanjutan kegiatan tersebut sebagai sesuatu yang perlu dihargai. Menurutnya, masyarakat Ciledug masih menunjukkan usaha untuk menjaga kebudayaan melalui perayaan yang berlangsung setiap tahun.
Penilaiannya berangkat dari pengalaman sebagai orang Ciledug sekaligus pelaku seni. Ia mengenal festival melalui kesempatan berpartisipasi dan melihat bagaimana kegiatan tersebut mempertemukan seniman dari berbagai lingkungan.
Pengalaman Cantika juga memperlihatkan bahwa keberlanjutan budaya mempunyai hubungan dengan kesempatan yang diberikan kepada para pelakunya. Kesenian memerlukan orang-orang yang terus bersedia belajar, melatih, mengembangkan karya, dan tampil di hadapan masyarakat.
Sesudah Festival, Latihan Masih Berjalan
Cai Diraga mempunyai kedudukan penting sebagai kegiatan budaya yang mempertemukan masyarakat dengan sumber air dan tradisi setempat. Dalam perkembangannya, festival juga menjadi ruang bagi para seniman untuk memperkenalkan karya mereka.
Bagi Cantika, kesempatan tersebut menjadi salah satu manfaat yang dirasakan dari penyelenggaraan festival. Keterlibatan peserta dari luar daerah memperluas perjumpaan, sementara pertunjukan seni membantu masyarakat mengenali keragaman budaya yang hidup di Ciledug.
Namun, perkembangan seorang seniman berlangsung jauh lebih panjang daripada jadwal festival. Kemampuan menari dibangun melalui kegiatan yang terus diulang, sedangkan pengalaman pertunjukan menjadi bagian dari perjalanan belajar yang tidak pernah benar-benar selesai.
Setelah Cai Diraga berakhir, para penampil akan kembali kepada kegiatan masing-masing. Ada yang melanjutkan latihan, mempersiapkan karya baru, atau kembali mengajarkan gerakan kepada peserta yang lebih muda.
Air dari sembilan sumber telah dipertemukan melalui prosesi Larung Cai. Sementara itu, para seniman yang datang dari berbagai tempat membawa pulang pengalaman perjumpaan mereka sendiri.
Sungai akan terus mengalir melewati Ciledug. Di tempat latihan, gerakan yang belum selesai dipelajari akan kembali diulang.
