Dewi Arimbi Turun ke Jalan Desa Bulak

  • Post author:
  • Post published:
  • Post category:Festival

Nasya Asyifatuzzahra tampil sebagai Dewi Arimbi dalam karnaval Mermule Buyut Banjar 2026 di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Bersama ogoh-ogoh Bima Werkudara, warga Wong Lor membawa kisah pewayangan ke tengah perayaan budaya desa.

Pada 18 Oktober 2026, jalanan Desa Bulak, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, menjadi ruang perayaan Mermule atau Unjungan Buyut Banjar. Tradisi yang berpusat pada Situs Buyut Banjar tersebut turut diramaikan karnaval ogoh-ogoh dengan berbagai karakter pilihan warga. Dari kawasan Wong Lor, sosok Bima Werkudara hadir sebagai tema utama kelompok. Nasya Asyifatuzzahra, remaja asal Desa Bulak, mendapat kesempatan mendampingi karakter tersebut dengan memerankan Dewi Arimbi.

Nasya mengenakan kostum karya Afi Makeup yang secara khusus menghadirkan karakter Dewi Arimbi. Bagi Nasya, kesempatan tersebut menjadi pengalaman berbeda dari kegiatan seni yang selama ini dijalaninya. Sejak kecil, ia lebih akrab dengan Tari Topeng dan Jaipong. Kali ini, keterampilan seni yang telah dipelajari bertahun-tahun membawanya menuju pengalaman memerankan tokoh pewayangan dalam perayaan budaya masyarakat.

Mengapa Arimbi Mendampingi Werkudara?

Dalam tradisi pewayangan Jawa, Dewi Arimbi dikenal sebagai istri Bima Werkudara, salah seorang kesatria Pandawa. Arimbi berasal dari keluarga raksasa Pringgandani dan kemudian menjadi ibu Gatotkaca. Kisah pertemuan Arimbi dan Bima memuat cerita tentang cinta, perbedaan asal-usul, serta perubahan kehidupan kedua tokoh. Hubungan tersebut membuat kehadiran mereka dalam satu rangkaian karnaval mempunyai dasar cerita yang dikenal dalam tradisi pewayangan.

Pilihan warga Wong Lor menghadirkan Bima Werkudara membuka kesempatan untuk mengikutsertakan Dewi Arimbi. Nasya memperoleh peran tersebut dan mengenakan kostum yang disiapkan oleh Afi Makeup. Kedua karakter kemudian menjadi bagian dari penampilan kelompok dalam karnaval Mermule Buyut Banjar 2026.

“Alasan utama saya ikut serta dengan kostum ini karena Wong Lor ogoh-ogohnya bertema Bima Werkudara dan kebetulan saya menjadi tokoh Dewi Arimbinya,” tutur Nasya dalam wawancara pada 26 Oktober 2026.

Melalui pilihan tersebut, masyarakat Wong Lor menghadirkan hubungan antara dua tokoh pewayangan ke dalam kegiatan budaya desa. Cerita yang selama ini dikenal melalui pertunjukan wayang mendapatkan ruang baru dalam bentuk ogoh-ogoh dan kostum karakter. Kreativitas warga memungkinkan tokoh-tokoh tersebut hadir lebih dekat dengan pengalaman masyarakat yang mengikuti karnaval.

See also  Mengapa Tasikmalaya Masih Membuat Payung dengan Tangan?

Kostum yang Membawa Keinginan

Kostum Dewi Arimbi merupakan karya Afi Makeup. Melalui rancangan busana, tata rias, dan kelengkapan karakter, tokoh pewayangan memperoleh bentuk yang dapat dibawakan dalam arak-arakan. Pekerjaan tersebut mempertemukan keterampilan kreatif dengan pengetahuan mengenai karakter yang ingin dihadirkan. Sebuah kostum akhirnya menjadi bagian dari cara masyarakat mengenali tokoh dalam pertunjukan.

Nasya mempunyai alasan tersendiri ketika menerima kesempatan mengenakan kostum tersebut. Selain menyesuaikan diri dengan tema kelompok Wong Lor, ia ingin memperkenalkan keunikan budaya melalui karya yang dikenakannya. Ketertarikannya terhadap pelestarian budaya turut mendorong keikutsertaan dalam karnaval.

“Alasan saya memakai kostum itu karena ingin memperkenalkan keunikan budaya lokal lewat detail kostumnya,” ungkap Nasya.

Keinginan tersebut memperlihatkan bagaimana sebuah festival dapat membuka kesempatan bagi anak muda untuk terlibat dalam kegiatan budaya melalui cara yang beragam. Ada yang menari, memainkan musik, membuat properti, merancang kostum, atau membawakan karakter tertentu. Masing-masing mengambil bagian sesuai pengalaman dan keterampilan yang dimiliki.

Bagi Nasya, kostum Dewi Arimbi juga membawa tanggung jawab untuk memperkenalkan karakter tersebut kepada penonton. Ia perlu menyesuaikan diri dengan kebutuhan penampilan, termasuk berbagai persiapan teknis selama kegiatan. Pengalaman itu menjadi bagian dari proses belajar yang berbeda dari latihan tari yang telah lama dikenalnya.

Kebanggaan yang Dikerjakan Bersama

Karnaval budaya memberi kesempatan kepada setiap kelompok warga untuk menghadirkan karya yang menjadi kebanggaan mereka. Pilihan karakter, pengembangan ogoh-ogoh, pembuatan kostum, dan persiapan peserta menjadi bagian dari pekerjaan yang melibatkan banyak orang. Dalam perayaan Mermule Buyut Banjar, warga Wong Lor memilih Bima Werkudara sebagai karakter utama dan menghadirkan Dewi Arimbi sebagai pendamping.

Pilihan tersebut memperlihatkan keinginan kelompok untuk membawa karya yang dapat dikenali masyarakat. Sosok Bima yang dikenal melalui kekuatan dan keberaniannya bertemu dengan Arimbi yang mempunyai perjalanan cerita tersendiri. Kedua karakter menjadi bagian dari kreativitas warga dalam memaknai tema karnaval.

See also  Anak Bulak yang Selalu Menemukan Jalan untuk Menari

Namun, keinginan menghasilkan penampilan yang membanggakan juga mempunyai tantangan. Kemegahan karya perlu diikuti kesiapan orang-orang yang terlibat membawakannya. Setiap peserta mempunyai tanggung jawab agar hasil persiapan dapat hadir dengan baik di hadapan masyarakat.

Nasya mengalami sendiri tantangan tersebut selama mengikuti Mermule. Ia menyebut adanya berbagai kesulitan, mulai dari persiapan teknis hingga usaha merepresentasikan karakter dengan tepat. Meski demikian, pengalaman itu memberinya kesempatan untuk mempelajari hal-hal baru.

“Prosesnya seru sekali dan memberikan banyak pengalaman baru buat saya,” kata Nasya.

Baginya, tantangan menjadi bagian dari pengalaman yang harus dilalui ketika memperoleh kesempatan tampil. Pekerjaan yang berlangsung sebelum karnaval mempunyai arti sama penting dengan penampilan di hadapan masyarakat.

Di balik sebuah karya yang menarik perhatian, selalu ada keterampilan dan waktu yang diberikan orang-orang untuk mempersiapkannya. Keberhasilan kelompok memperlihatkan hasil karya bergantung pada keterlibatan mereka yang membuat, menyiapkan, dan membawakan penampilan.

Mermule dan Ruang Kreativitas Warga Bulak

Mermule atau Unjungan Buyut Banjar merupakan tradisi masyarakat Desa Bulak yang berkaitan dengan penghormatan kepada leluhur, kegiatan doa bersama, dan hubungan sosial warga. Situs Buyut Banjar menjadi pusat ingatan budaya yang menghubungkan masyarakat dengan cerita serta tradisi yang diwariskan antargenerasi.

Dalam perkembangannya, perayaan Mermule turut menghadirkan pentas seni dan karnaval budaya. Pada 17 Oktober 2026, masyarakat menyelenggarakan pertunjukan yang melibatkan anak-anak, remaja, serta kelompok kesenian setempat. Keesokan harinya, karnaval budaya menghadirkan Tari Manuk Banjar sebagai pembuka sebelum rangkaian arak-arakan ogoh-ogoh.

Kehadiran kelompok Wong Lor menjadi salah satu bentuk keterlibatan masyarakat dalam perayaan tersebut. Melalui pengembangan ogoh-ogoh bertema Bima Werkudara dan kostum Dewi Arimbi, warga memanfaatkan kisah pewayangan sebagai sumber kreativitas.

See also  Maniamölö Fest 2026: Ketika Desa Adat Hilisimaetanö Membuka Ingatan Nias Selatan

Perayaan budaya semacam ini memperlihatkan bahwa masyarakat mempunyai ruang untuk mengembangkan cara mereka sendiri dalam mengambil bagian. Tradisi yang diwariskan melalui kegiatan bersama dapat bertemu dengan keterampilan seni, tata rias, pembuatan kostum, dan penggarapan pertunjukan.

Bagi generasi muda seperti Nasya, pertemuan tersebut membuka pengalaman yang mungkin tidak diperoleh melalui kegiatan seni sehari-hari. Ia dapat mengenali karakter pewayangan melalui praktik langsung, bekerja bersama orang lain, dan membawa hasil persiapan ke hadapan warga desa.

Setelah Arimbi Kembali Menjadi Nasya

Perjalanan Nasya dalam dunia seni telah dimulai jauh sebelum keterlibatannya dalam Mermule Buyut Banjar 2026. Sejak taman kanak-kanak, ia mempelajari Tari Topeng dan melanjutkan pendidikannya dalam seni tari melalui Jaipong. Kesempatan mengikuti berbagai kegiatan serta perlombaan membentuk pengalaman yang kemudian dibawanya kembali ke Desa Bulak.

Keterlibatan dalam karnaval sebagai Dewi Arimbi menambah satu pengalaman dalam perjalanan tersebut. Nasya memperoleh kesempatan membawakan tokoh yang selama ini hidup melalui cerita pewayangan, sementara Afi Makeup menghadirkan karakter melalui karya kostum. Warga Wong Lor turut memperlihatkan hasil kreativitas mereka melalui ogoh-ogoh Bima Werkudara.

Kebanggaan kelompok akhirnya memperoleh bentuk melalui pekerjaan banyak orang. Setiap keterampilan mempunyai tempat dalam membangun perayaan, mulai dari penciptaan karya hingga keberanian seseorang untuk tampil membawakannya.

Ketika karnaval selesai, Nasya kembali menjalani kehidupan sebagai pelajar dan pegiat seni di Desa Bulak. Kostum Dewi Arimbi dapat disimpan, sementara ogoh-ogoh yang menyertainya tidak lagi memenuhi jalan desa.

Namun, pengalaman memerankan tokoh pewayangan telah menjadi bagian dari perjalanan keseniannya. Seorang remaja yang sebelumnya lebih sering hadir melalui gerakan Tari Topeng dan Jaipong kini mempunyai pengalaman lain untuk dibawa ke panggung berikutnya.

Di Desa Bulak, Dewi Arimbi mungkin hanya turun ke jalan selama satu perayaan. Bagi Nasya, kesempatan tersebut menjadi satu lagi alasan untuk terus terlibat dalam kesenian.