Nasya Asyifatuzzahra pernah meninggalkan sanggar karena sekolah, kesulitan menyesuaikan diri dengan jenis tarian baru, dan menghadapi keterbatasan untuk mengikuti lomba. Namun, perjalanan penari muda asal Indramayu itu justru membawanya kembali ke kampung untuk mengajarkan tari.
Seorang siswi sekolah berasrama mendatangi pembimbingnya untuk meminta izin mengikuti lomba tari. Kesempatan mengikuti perlombaan memang terbatas, sementara kegiatan sekolah mempunyai aturan dan jadwal tersendiri. Namun, keinginannya untuk kembali tampil membuat ia memberanikan diri menyampaikan permintaan. Pembimbing yang biasa disapanya sister kemudian membantu membuka kesempatan tersebut.
Siswi itu adalah Nasya Asyifatuzzahra, remaja asal Desa Bulak, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat. Ketika bersekolah di Sekolah Menengah Pertama Islam Terpadu (SMP IT) Bina Insan Mulia, Nasya harus menyesuaikan kegemaran menarinya dengan kehidupan sekolah berasrama. Ia tidak lagi dapat mengikuti kegiatan sanggar seperti ketika tinggal di rumah. Namun, keinginan untuk menari tetap membuatnya mencari kesempatan melalui kegiatan sekolah.

Keberanian meminta izin tersebut menjadi salah satu bagian penting dalam perjalanan keseniannya. Nasya kemudian memperoleh kesempatan mengikuti beberapa perlombaan Tari Topeng di Cirebon. Ia juga dipercaya tampil dalam berbagai acara sekolah, termasuk wisuda, kegiatan penerimaan, dan acara lainnya. Di tengah berbagai kewajiban sebagai pelajar, tari tetap memperoleh tempat dalam kesehariannya.
Dari Tari Topeng ke Jaipong
Perjalanan seni Nasya dimulai sejak taman kanak-kanak. Ketika anak-anak seusianya mulai mengenal berbagai kegiatan belajar, Nasya sudah mengikuti latihan Tari Topeng. Ia meneruskan latihan tersebut hingga kelas lima sekolah dasar. Selama beberapa tahun, Tari Topeng menjadi kesenian yang paling akrab dengan pengalaman tubuhnya.
Belajar Tari Topeng ternyata membutuhkan ketekunan. Nasya mengenang adanya ujian tingkat yang harus dilalui selama mengikuti latihan. Setiap tahap menuntut penguasaan gerak dan kemampuan yang semakin berkembang. Ia berhasil menyelesaikan tahapan tersebut, meskipun mengakui prosesnya cukup berat.
Memasuki kelas lima sekolah dasar, kegiatan Nasya mulai bertambah. Ada pilihan aktivitas lain yang membuat waktu berlatih semakin terbatas. Pada akhirnya, ia berhenti mengikuti latihan Tari Topeng dan mencoba mempelajari Jaipong.
Perpindahan tersebut membawa tantangan baru. Tubuh yang selama bertahun-tahun terbiasa dengan karakter gerak Tari Topeng harus menyesuaikan diri dengan Jaipong. Nasya merasa perubahan tersebut cukup sulit karena sebelumnya lebih akrab dengan gerakan berkarakter gagah, sementara jenis Jaipong yang dipelajarinya menuntut pengolahan gerak yang lebih feminin.
Namun, kesulitan tersebut justru membawanya mengenali pengalaman baru dalam menari. Ia mengikuti latihan Jaipong sejak kelas lima hingga kelas enam sekolah dasar. Pengalaman mempelajari dua bentuk tari memberi Nasya kesempatan mengenali perbedaan karakter gerak dan tuntutan keterampilan dalam masing-masing kesenian.
Sekolah yang Membuatnya Berhenti, Sekolah Pula yang Membuka Jalan
Ketika memasuki jenjang sekolah menengah pertama, Nasya kembali menghadapi perubahan. Ia melanjutkan pendidikan di SMP IT Bina Insan Mulia, sebuah sekolah berasrama di luar kota tempat tinggalnya. Perpindahan tersebut membuat kegiatan latihan di sanggar yang sebelumnya diikuti harus dihentikan.
Kehidupan sekolah berasrama membawa jadwal dan tanggung jawab baru. Kesempatan mengikuti perlombaan seni juga tidak selalu tersedia. Bagi Nasya, perubahan tersebut membuat perjalanan menarinya mengalami masa yang berbeda dari tahun-tahun sebelumnya.
Namun, sekolahnya masih mempunyai kegiatan latihan tari. Nasya kembali memanfaatkan kesempatan tersebut untuk menjaga keterampilan yang telah dipelajari sejak kecil. Ia juga mulai memikirkan cara agar dapat mengikuti perlombaan.
Keinginan itu membuatnya memberanikan diri mengajukan permintaan kepada pembimbing sekolah. Nasya memperoleh dukungan untuk mengikuti perlombaan Tari Topeng di Cirebon. Kesempatan yang awalnya terasa terbatas mulai terbuka melalui keberaniannya menyampaikan keinginan.
Pengalaman tersebut memperlihatkan perubahan kecil dalam cara Nasya menjalani kegiatan seni. Ketika masih kecil, ia mengikuti latihan yang telah tersedia di sanggar. Di sekolah berasrama, ia mulai belajar mencari dan memperjuangkan sendiri kesempatan untuk tampil.
Kepercayaan dari lingkungan sekolah kemudian memberi ruang lebih luas bagi Nasya. Ia beberapa kali mendapat kesempatan menari dalam kegiatan sekolah. Setiap penampilan menjadi cara untuk menjaga keterampilan yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
Ketika Teman Sekolah Ikut Menari
Ada pengalaman lain yang tumbuh selama Nasya tinggal di sekolah berasrama. Beberapa temannya mulai tertarik mempelajari Tari Topeng setelah melihatnya menari. Ketertarikan tersebut membuka kesempatan bagi Nasya untuk membagikan gerakan yang telah dikuasainya.
Nasya mulai membantu teman-temannya belajar Tari Topeng. Kegiatan tersebut sekaligus menjadi cara untuk menjaga ingatannya terhadap rangkaian gerak yang sebelumnya dipelajari di sanggar. Semakin sering ia mengajarkan gerakan, semakin banyak kesempatan untuk mengulang dan memperbaiki keterampilannya sendiri.
Pengalaman mengajar teman ternyata membawa hubungan baru dengan kegiatan perlombaan. Nasya mengajak mereka mengikuti lomba tari bersama. Kelompok tersebut berhasil meraih juara harapan tiga.
Bagi Nasya, hasil tersebut tetap menjadi pengalaman yang membahagiakan. Ia melihat teman-temannya bersedia belajar, berlatih, dan mengikuti kegiatan yang sebelumnya mungkin belum mereka bayangkan. Kegembiraan tidak hanya berasal dari kesempatan tampil, tetapi juga dari semangat orang-orang yang belajar bersamanya.
Di titik tersebut, peran Nasya mulai berubah. Ia masih menjadi pelajar yang berusaha mengembangkan kemampuan menari. Namun, ia juga mulai memperoleh pengalaman mendampingi orang lain mempelajari kesenian yang sama.
Pulang ke Bulak, Kembali ke Sanggar
Setelah menyelesaikan pendidikan di SMP IT Bina Insan Mulia, Nasya melanjutkan sekolah di SMA Negeri 1 Sliyeg, Kabupaten Indramayu. Ia juga mulai kembali mendatangi sanggar-sanggar tempatnya pernah belajar. Perjalanan yang sempat terputus karena pendidikan berasrama memperoleh kesempatan untuk dilanjutkan.
Kepulangannya ke lingkungan seni Desa Bulak mempertemukan Nasya dengan kegiatan budaya yang sedang berkembang di daerah tersebut. Melalui dukungan Kuwu Desa Bulak, Meidin, ia mendapat kesempatan terlibat dalam Tari Manuk Banjar.
Tari Manuk Banjar merupakan karya yang dikembangkan melalui penelitian etnografi Deden Haerudin dan Fachri Helmanto terhadap kehidupan budaya masyarakat sekitar Situs Buyut Banjar. Pengembangan tari tersebut turut melibatkan proses pelatihan gerak oleh Cantika Ramadani serta dukungan pemerintah desa dalam memperkenalkannya kepada sejumlah sekolah.
Bagi Nasya, keterlibatan dalam Manuk Banjar mempunyai arti tersendiri. Ia memperoleh kesempatan mempelajari dan membawakan kesenian yang tumbuh dari lingkungan tempat tinggalnya sendiri. Pengalaman tersebut juga membawanya tampil di Universitas Negeri Jakarta, salah satu perguruan tinggi negeri yang ingin ditujunya setelah menyelesaikan pendidikan menengah.
Kesempatan tampil di kampus yang menjadi cita-citanya menghadirkan pertemuan antara dua keinginan. Nasya ingin terus berkembang sebagai penari, sekaligus mempunyai harapan melanjutkan pendidikan ke jenjang perguruan tinggi. Melalui kegiatan seni, ia memperoleh pengalaman berada di lingkungan kampus yang selama ini diinginkannya.
Dari Murid Menjadi Orang yang Mengajar
Perjalanan Nasya kemudian membawanya kepada peran lain dalam kehidupan seni Desa Bulak. Setelah bertahun-tahun mengikuti latihan, ia mendapat kesempatan membantu melatih anak-anak yang mempelajari tari.
Kesempatan tersebut mengingatkannya pada pengalaman selama sekolah berasrama. Ketika itu, Nasya mengajarkan Tari Topeng kepada teman-temannya agar mereka dapat belajar bersama. Kini, kegiatan serupa berlangsung di lingkungan desa tempat ia tumbuh.
Pengalaman mengajarkan tari menghadirkan tanggung jawab yang berbeda dari menjadi penampil. Seorang penari perlu menguasai gerakan untuk dirinya sendiri. Ketika mengajar, ia harus membantu orang lain mengenali gerakan, mengingat urutannya, serta menyesuaikan kemampuan dengan kebutuhan latihan.
Pengetahuan yang dahulu diterima dari pelatih mulai dibagikan kembali kepada generasi berikutnya. Nasya memperoleh kesempatan melihat bahwa keterampilan menari dapat berkembang melalui hubungan antara orang yang belajar dan orang yang bersedia mengajarkan.
Perubahan tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan keseniannya. Dulu, ia harus menyesuaikan diri dengan jadwal sanggar, perpindahan sekolah, dan kesempatan mengikuti perlombaan. Sekarang, pengalaman yang diperoleh dari berbagai tempat dapat digunakan untuk membantu anak-anak lain memulai perjalanan serupa.
Jalan yang Belum Selesai
Pada 18 Oktober 2026, Nasya kembali terlibat dalam kegiatan budaya masyarakat Desa Bulak melalui karnaval Mermule atau Unjungan Buyut Banjar. Dalam perayaan tersebut, ia tampil sebagai Dewi Arimbi mewakili kawasan Wong Lor, mendampingi ogoh-ogoh bertema Bima Werkudara. Kostum yang dikenakannya merupakan karya Afi Makeup.
Pengalaman tersebut menambah bentuk kesenian yang pernah dijalani Nasya. Setelah mempelajari Tari Topeng, Jaipong, mengikuti perlombaan, dan membantu melatih anak-anak, ia memperoleh kesempatan menghadirkan karakter pewayangan dalam sebuah karnaval budaya.
Namun, perjalanan Nasya mempunyai benang merah yang lebih panjang daripada daftar penampilan dan perlombaan. Ia beberapa kali harus menyesuaikan kegiatan menari dengan perubahan sekolah serta kesempatan yang tersedia. Setiap perubahan membuatnya mencari jalan baru agar dapat tetap terlibat dalam kesenian.
Ketika masih kecil, Nasya membutuhkan pelatih yang membimbingnya mempelajari gerak. Di sekolah berasrama, ia membutuhkan kesempatan untuk kembali tampil. Sekarang, anak-anak Desa Bulak mempunyai kesempatan memperoleh pengalaman belajar melalui keterampilan yang dibagikannya.
Nasya masih menempuh pendidikan di SMA Negeri 1 Sliyeg. Keinginannya untuk melanjutkan pendidikan dan mengembangkan kemampuan seni masih berada di depan. Ia belum mengetahui seluruh kesempatan yang akan ditemuinya.
Namun, ada satu hal yang sudah berubah. Dahulu, Nasya mencari tempat agar bisa terus belajar menari. Kini, sebagian anak di kampungnya mulai menemukan tempat belajar melalui dirinya.
