Betawi Berjalan di Cilebut

Sore ini, 22 Agustus 2026, warga Pesona Cilebut 2, Kecamatan Sukaraja, Kabupaten Bogor, mulai memenuhi jalan untuk mengikuti pawai menuju malam puncak perayaan 17 Agustus. Merah-putih muncul di mana-mana, tetapi di antara warna perayaan itu ada pemandangan lain yang menarik perhatian: Arif Hidayat mengenakan pakaian putih bergaya Betawi, sementara Omar, anaknya, berjalan dengan pakaian merah yang mudah mengingatkan orang pada gambaran jawara Betawi.

Lokasinya membuat pemandangan itu terasa lebih menarik. Pawai berlangsung di Bogor, sementara pakaian yang dikenakan Arif dan Omar membawa Betawi ke tengah perayaan. Tetapi Betawi dan Bogor sebenarnya tidak berdiri sejauh yang sering dibayangkan. Wilayah budaya Betawi sejak lama melampaui batas administratif Jakarta dan menjangkau sebagian Kabupaten Bogor. Sejumlah catatan kebudayaan bahkan menempatkan Bogor sebagai salah satu wilayah yang bersentuhan kuat dengan kehidupan budaya Betawi.

Jadi, ketika Arif dan Omar berjalan dengan pakaian Betawi di Cilebut, yang terlihat bukan budaya Jakarta sedang “bertamu” ke Bogor. Ada hubungan yang lebih lama di belakang pemandangan itu.

Sebelum Anak Mengenal Namanya

Pakaian Omar berwarna merah. Dengan penutup kepala dan potongan pakaian yang mengingatkan pada jawara, sosok Omar mudah membawa ingatan kepada Si Pitung. Gambaran seperti itu sudah lama hidup melalui film, pertunjukan, pawai budaya, dan berbagai bentuk representasi Betawi.

Kostum jawara Betawi sendiri mempunyai banyak variasi. Pangsi, ikat kepala, sarung, sabuk, sampai golok sering muncul sebagai bagian dari gambaran seorang jagoan Betawi. Dalam tradisi lisan Betawi, pakaian jawara bahkan dipakai oleh pelaku cerita untuk memperkuat karakter yang sedang dibawakan.

Omar tentu belum perlu memahami seluruh lapisan sejarah tersebut sore ini. Omar cukup memakai pakaian merah, berdiri di samping ayahnya, lalu ikut berjalan bersama warga. Dari sana, budaya mulai masuk lewat tubuh: lewat pakaian yang dikenakan, jalan yang dilewati, orang yang ditemui, dan suasana yang dirasakan.

See also  Juneteenth 2026: Ingatan Pembebasan yang Bergerak di Ruang Publik

Pewarisan sering bekerja seperti itu. Anak mengenal sesuatu sebelum anak mengenal istilahnya.

Bahasa keluarga biasanya terdengar lebih dahulu sebelum tata bahasanya dipelajari. Makanan keluarga disantap jauh sebelum resepnya dipahami. Pakaian budaya pun bisa datang melalui pengalaman serupa. Anak memakai dulu, menikmati suasananya, lalu beberapa tahun kemudian baru mulai bertanya.

Pertanyaan itulah yang membuka pintu berikutnya.

Betawi di Bogor Bukan Cerita yang Aneh

Batas provinsi membuat kita terbiasa mengelompokkan kebudayaan berdasarkan peta administrasi. Betawi dianggap Jakarta, Sunda dianggap Jawa Barat, lalu keduanya tampak seolah mempunyai pagar yang tegas. Kehidupan masyarakat bergerak lebih cair daripada garis pada peta.

Catatan tentang wilayah budaya Betawi menunjukkan penyebaran masyarakat Betawi sampai sebagian Kabupaten Bogor. Bahkan bahasa dan kesenian Betawi berkembang di kawasan yang bersentuhan dengan budaya Sunda. Rebana Biang, misalnya, dicatat sebagai kesenian Betawi yang penyebarannya kuat di wilayah Bogor sehingga memperlihatkan pengaruh Sunda.

Cilebut berada di ruang semacam itu: dekat dengan Jakarta, berada di Kabupaten Bogor, dan sehari-hari menjadi tempat bertemunya banyak latar keluarga. Karena itu, kostum Betawi yang muncul dalam pawai warga justru memperlihatkan cara kebudayaan hidup sebenarnya. Budaya mengikuti manusia, keluarga, perkawinan, pekerjaan, perpindahan tempat tinggal, dan kebiasaan yang dibawa dari rumah lama menuju rumah baru.

Arif membawa salah satu jejak itu melalui keluarga.

Omar menerimanya melalui sore yang mungkin bagi Omar terasa sebagai pawai biasa.

Pewarisan yang Tidak Perlu Menunggu Pelajaran

Ada kecenderungan menganggap pelestarian budaya sebagai urusan pertunjukan besar, sanggar, museum, sekolah, atau festival. Semua ruang itu penting, tetapi pewarisan budaya sering dimulai jauh sebelum seseorang masuk ke sana.

Pewarisan bisa dimulai ketika seorang ayah memilih pakaian untuk anaknya.

See also  Panjat Pinang yang Tidak Ikut Pulang

Arif tidak harus memberi ceramah panjang tentang identitas Betawi kepada Omar di tengah pawai. Kehadiran Arif di samping Omar sudah membentuk konteks. Omar melihat pakaian ayahnya, mengenakan pakaian sendiri, kemudian berjalan bersama dalam acara warga.

Pembiasaan membuat budaya hadir sebagai bagian dari kehidupan, bukan sebagai benda yang hanya dikeluarkan ketika ada tugas sekolah.

Kelak Omar mungkin mengenal nama pangsi, mendengar cerita Pitung, melihat pertunjukan silat, atau mengetahui bahwa wilayah budaya Betawi menjangkau kawasan di luar Jakarta. Pengetahuan itu akan mempunyai tempat untuk menempel karena Omar sudah mempunyai pengalaman sebelumnya.

Omar pernah memakainya.

Omar pernah berjalan di dalamnya.

Dari Pawai Menuju Malam Puncak

Pawai sore ini menjadi pembuka menuju acara puncak perayaan 17 Agustus di Pesona Cilebut 2. Warga berjalan dengan pakaian dan atribut yang beragam, lalu keramaian sore perlahan bergerak menuju kegiatan malam.

Di antara banyak peserta, Arif dan Omar membawa cerita kecil yang mudah terlewat. Seorang ayah Betawi berjalan bersama anaknya di sebuah perumahan di Kabupaten Bogor. Tidak ada panggung khusus untuk menjelaskan pewarisan budaya. Yang ada hanya jalan lingkungan, kostum, merah-putih, dan seorang anak yang sedang menikmati keramaian.

Mungkin beberapa tahun lagi Omar hanya mengingat bagian paling sederhana: baju merah, pawai, dan foto bersama ayah.

Lalu suatu hari Omar bertanya mengapa pakaian itu mirip Pitung.

Pada saat itu, cerita yang dimulai sore ini di Cilebut bisa berjalan lagi.