Ketika Desa Bulak Mulai Menari

  • Post author:
  • Post category:Cerita

Ada sungai, stasiun, museum, mangga, makam, monyet, dan arak-arakan. Semuanya berada di sekitar Desa Bulak dan Jatibarang, tetapi pada awalnya tidak ada yang benar-benar menyerupai sebuah tari.

Deden Haerudin dan Fachri Helmanto membaca ruang itu sedikit demi sedikit. Cimanuk membawa ingatan tentang aliran dan perjalanan. Stasiun Jatibarang memperlihatkan perlintasan manusia. Museum Bandar Cimanuk menyimpan jejak masa lalu. Mangga Gedong Gincu hadir dekat dengan kehidupan agraris masyarakat. Semakin banyak tanda ditemukan, semakin jelas pula bahwa Desa Bulak tidak kekurangan bahan untuk bercerita. Persoalannya justru terletak pada cara membawa semua bahan tersebut ke tubuh yang bergerak.

Perjalanan kemudian membawa perhatian menuju Situs Buyut Banjar.

Di tempat itu, makam, ziarah, cerita warga, dan keberadaan monyet-monyet bertemu dalam satu ruang yang terus hidup dalam ingatan masyarakat. Cerita mengenai 41 monyet menjadi salah satu bagian yang paling kuat. Monyet-monyet tersebut bukan sekadar hewan yang berada di sekitar situs. Dalam cerita masyarakat, keberadaannya telah terhubung dengan Buyut Banjar dan ikut membentuk cara warga mengenali tempat itu.

Belum ada koreografi.

Yang ada masih berupa potongan-potongan pengalaman: burung, monyet, mangga, sungai, situs keramat, dan arak-arakan.

Burung kemudian memperoleh tempat dalam imajinasi gerak melalui resonansi Cimanuk dan ornamen burung pada Singa Depok. Monyet membawa kemungkinan gerak yang lebih lincah dan membumi. Mangga Gedong Gincu membawa kehidupan agraris. Singa Depok menghadirkan ingatan mengenai arak-arakan dan tubuh-tubuh yang bergerak bersama. Bahan-bahan yang sebelumnya tersebar di desa mulai mendekat satu sama lain.

Tidak ada satu benda yang tiba-tiba berubah menjadi tari. Perubahannya berlangsung ketika hasil pembacaan itu dibawa ke ruang latihan.

Di sana, tubuh muda mulai mengambil giliran.

See also  Fachri Helmanto Raih Doktor, IPOP Membaca Budaya Populer dalam Cerita Anak

Gerak dicoba dan diulang. Bahu bergerak. Sampur digibas. Tubuh berpindah, berputar, lalu kembali menemukan posisi. Dari proses tersebut muncul tiga bagian yang kemudian menjadi struktur penting dalam Tari Manuk Bulak: Topeng, Sintren, dan Warung Doyong.

Topeng membawa kekuatan karakter dan suasana arak-arakan. Gerak seperti Adeg-adeg koma sumpingan, Gibas sampur, dan Obah bahu geser puter membuat tubuh berdiri, membuka ruang, lalu mengubah arah. Jejak tradisi masih terlihat, tetapi tubuh tidak sedang menyalin masa lalu begitu saja. Tubuh sedang mencoba menemukan bentuk baru dari bahan yang sebelumnya ditemukan di masyarakat.

Kemudian suasana berubah.

Pada bagian Sintren, tubuh menjadi lebih lincah. Kacamata masuk sebagai properti visual. Mincid, permainan bahu, bungbang, dan kepretan sampur membawa tari ke wilayah yang lebih dekat dengan pengalaman populer. Unsur magis Sintren tidak hilang, tetapi sekarang bergerak berdampingan dengan sebuah benda yang sangat mudah dikenali oleh generasi muda.

Setelah itu Warung Doyong membuka ruang yang lebih ramai.

Gerak menjadi lebih kolektif. Geol mundur kiri kanan, ukel, tapak bulak balik, hingga kepret sampur bergerak bersama energi Pantura. Di bagian inilah musikalitas mulai mengambil peran yang semakin terasa. Irama koplo gaya Pantura bukan ditempatkan hanya sebagai pemanis pertunjukan. Irama membantu tubuh menemukan denyut yang dekat dengan pengalaman anak-anak muda yang sedang belajar menari.

Dari sinilah lagu pengiring memperoleh tempatnya.

Lagu Manuk Banjar tidak lahir untuk berdiri sendirian di depan tari. Lagu bekerja bersama gerak. Irama membantu tubuh berpindah dari kekuatan Topeng menuju kelincahan Sintren, kemudian memasuki suasana Warung Doyong yang lebih terbuka. Musik menjadi bagian dari jalan yang membawa bahan-bahan etnografis tadi—sungai, situs, monyet, arak-arakan, dan kehidupan Pantura—ke dalam pengalaman pertunjukan.

See also  Desa Bulak, Desa Wisata Mandiri

Kadang tubuh memang mengenali sesuatu lebih dahulu daripada kata-kata.

Seorang penari dapat mengikuti ketukan sebelum mengetahui seluruh cerita tentang Buyut Banjar. Gerakan dapat terasa akrab sebelum makna setiap simbol selesai dijelaskan. Musik membuka pintu itu. Setelah tubuh masuk, cerita di belakang gerak perlahan ikut terbaca.

Proses tersebut membuat Tari Manuk Bulak tidak berhenti sebagai usaha memindahkan tradisi lama ke panggung baru. Ada pertemuan antara sesuatu yang diwariskan masyarakat dengan cara generasi muda mengalami dunia hari ini. Tradisi bertemu kacamata, koplo, dokumentasi digital, latihan bersama, dan tubuh-tubuh yang sebelumnya mungkin lebih dekat dengan budaya populer daripada situs keramat.

Lalu pertunjukan selesai.

Justru pada saat musik berhenti, cerita memperoleh gerakan lain.

Perwakilan ibu-ibu PKK yang menyaksikan pertunjukan mengusulkan sebuah nama: Tari Manuk Banjar. Nama awal Manuk Bulak membawa Desa Bulak dan resonansi Cimanuk. Namun bagi warga, Banjar membawa ingatan yang sangat dekat dengan situs, makam, ziarah, dan cerita mengenai monyet yang telah lama dikenal masyarakat.

Usulan itu tampaknya sederhana. Hanya perubahan satu kata.

Namun satu kata tersebut mengubah posisi warga dalam perjalanan tari ini.

Sejak awal, Deden dan Fachri datang membaca masyarakat: melihat ruangnya, memperhatikan tanda-tandanya, mengikuti cerita yang masih beredar, lalu membawa hasil pembacaan itu menuju tari. Setelah tari berdiri di depan warga, masyarakat melakukan hal yang sama dari arah sebaliknya.

Warga membaca kembali karya tersebut.

Mereka mengenali geraknya, melihat tanda-tanda yang dibawanya, lalu menghubungkannya dengan ingatan yang menurut mereka paling dekat. Dari sanalah nama Manuk Banjar muncul.

Maka perjalanan dari etnografi menuju pertunjukan ternyata tidak benar-benar berakhir di panggung. Sungai telah masuk ke imajinasi. Monyet telah menemukan geraknya. Pantura telah memperoleh irama. Anak-anak muda telah memberikan tubuhnya.

See also  Manuk Banjar Masuk ke Perayaan HUT RI Desa Bulak

Setelah semuanya selesai, sebuah nama kembali dari arah penonton.

Dan tari itu bergerak lagi.